INKAM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkomitmen, mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia.
Salah satu upaya strategisnya, yakni pelaksanaan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
Kegiatan ini bertujuan, untuk mengukur secara menyeluruh bagaimana tingkat pemahaman, keterampilan, dan perilaku masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan jasa keuangan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya terliterasi, tapi juga menggunakan produk jasa keuangan secara bijak,” kata Kepala Eksekutif OJK, Friderica Widyasari Dewi.
Ia menambahkan, berdasarkan studi OECD, negara dengan tingkat literasi keuangan yang tinggi, memiliki korelasi positif terhadap tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Karena itu, hasil survei ini sangat penting, untuk membangun masyarakat yang melek finansial dan terlindungi.
Pendataan SNLIK 2025 telah dimulai sejak 22 Januari hingga 11 Februari 2024, di 1.080 blok sensus di seluruh Indonesia.
Data yang dikumpulkan, akan mencerminkan kondisi literasi keuangan masyarakat selama tahun 2024.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi OJK dalam mendorong inklusi keuangan, termasuk melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), serta pembentukan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di berbagai wilayah.
Dengan kerja sama lintas sektor, OJK berharap, target inklusi keuangan nasional yang ditetapkan pemerintah dapat tercapai.
“Kolaborasi adalah kunci. Kami menggandeng seluruh stakeholder dari perbankan hingga asuransi untuk menyukseskan agenda ini,” tutup Friderica.















