Lompat ke konten utama

Info Kejadian Makassar

Ekonomi Syariah Tembus Arus Utama Global, BI Sulsel Tegaskan Komitmen Literasi dan Inovasi

YOGYAKARTA, INKAM — Perkembangan ekonomi syariah global terus menunjukkan arah baru, dengan kawasan Asia, khususnya Indonesia dan Malaysia, kian menonjol sebagai pusat pertumbuhan baru menggantikan dominasi Timur Tengah.

Hal ini mengemuka dalam kegiatan Training for Trainer Ekonomi dan Keuangan Syariah, yang digelar Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Novotel Suites Yogyakarta, Senin (23/6/2025), melibatkan 50 wartawan asal Sulsel.

Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia, Mohammad Bekti Hendrie Anto, memaparkan, peluang Indonesia menjadi bagian dari arus utama sistem ekonomi global sangat terbuka lebar, mengingat capaian dan potensi sektor halal nasional yang terus meningkat.

“Indonesia kini berada di peringkat tiga dunia dalam sektor ekonomi syariah menurut laporan SGIE 2023, setelah Malaysia dan Arab Saudi,” jelasnya.

Dalam paparannya, Bekti menjabarkan tantangan dan potensi utama pengembangan ekonomi syariah.

Tiga tantangan mendasar yang dihadapi, yakni rendahnya literasi masyarakat, keterbatasan SDM kompeten, serta kurang variatifnya inovasi dan daya saing produk halal dibandingkan produk konvensional.

Oleh karena itu, strategi penguatan SDM dan inovasi produk halal, menjadi fokus mendesak dalam mempersiapkan Indonesia, sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

Secara garis besar, pengembangan ekonomi syariah nasional didorong melalui tiga pilar utama, yaitu penguatan ekosistem produk halal, penguatan keuangan syariah, dan peningkatan literasi serta inklusi masyarakat.

Baca Juga  Selama Kampanye Pemilu 2024, BI Proyeksi Aliran Uang Keluar Capai Rp1,26 Triliun

Upaya ini dilandasi oleh prinsip maqashid syariah, yakni menjaga agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan harta (hifz al-mal), dengan tujuan akhir mewujudkan keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan.

Bank Indonesia Sulsel sendiri telah melakukan berbagai langkah konkret, dalam mendorong ekonomi syariah di daerah.

Di antaranya adalah pendampingan sertifikasi halal kepada lebih dari 100 pelaku usaha per tahun, pengembangan ekosistem halal food, modest fashion, hingga zona wisata ramah muslim.

Selain itu, BI Sulsel juga menginisiasi pelatihan juru sembelih halal (JULEHA), pemberdayaan pesantren, dan kurasi produk-produk UMKM syariah melalui program IKRA.

Berbagai festival seperti FESyar Kawasan Timur Indonesia dan PESYAR menjadi panggung literasi, sekaligus promosi bagi pelaku ekonomi syariah lokal untuk menembus pasar global.

Bahkan, sejak 2022, pelaku modest fashion Sulsel rutin difasilitasi untuk tampil dalam ajang internasional, seperti Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) dan ISEF.

“Ekonomi syariah tidak sekadar sistem keuangan, tetapi juga gaya hidup halal yang mencakup makanan, obat, kosmetik, media, hingga jasa. Potensi ini harus terus didorong dengan sinergi lintas sektor, terutama literasi yang meluas dan inklusif,” kata Bekti menegaskan.

Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia menegaskan kembali perannya, sebagai katalis dalam membangun ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang tangguh, adil, dan berdaya saing global, dengan Sulsel sebagai salah satu pionirnya di Indonesia Timur.

Baca Juga  BI Sulsel Resmi Gelar SERAMBI 2025, Layani Penukaran Uang di 70 Titik
CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah