SOROWAKO, INKAM — Mengajukan pertanyaan paling sensitif di awal wawancara, ternyata bukan strategi yang dianjurkan dalam jurnalisme investigasi.
Alih-alih membuka fakta, cara tersebut justru berpotensi membuat narasumber menutup diri, dan menghentikan aliran informasi sejak awal.
Prinsip itu menjadi salah satu materi utama dalam Up-Skilling & Site Visit Media 2026, yang digelar PT Vale Indonesia Tbk bekerja sama dengan Tempo Institute di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.
Memasuki hari kedua pelatihan, Minggu (27/7/2026), sekitar 40 jurnalis dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, dibekali teknik wawancara investigatif hingga penyusunan narasi berbasis fakta.
Jurnalis Tempo, Sapto Yunus, memperkenalkan pendekatan “teori bubur panas”, sebuah metode wawancara yang mengibaratkan proses menggali informasi, seperti menikmati semangkuk bubur yang masih panas.
Wartawan dianjurkan memulai percakapan dari sisi yang “dingin” atau topik ringan sebelum perlahan mengarah ke inti persoalan.
Menurut Sapto, pendekatan tersebut efektif membangun kepercayaan narasumber, sehingga informasi yang diperoleh lebih mendalam dan dapat diverifikasi.
“Wawancara investigatif bukan tujuan akhir sebuah liputan, tetapi alat untuk menemukan orang yang mengetahui informasi, menguji data, sekaligus mengonfirmasi temuan sebelum dipublikasikan,” jelasnya di hadapan peserta.
Ia menegaskan, yang dicari dalam liputan investigasi bukan sekadar opini narasumber, melainkan fakta yang dapat diuji kebenarannya. Karena itu, pewawancara tidak disarankan membuka percakapan dengan pertanyaan klise, maupun pertanyaan yang paling sensitif.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mempelajari tiga tahapan utama wawancara investigatif, yakni eksplorasi, konfrontasi, dan konfirmasi.
Tahap eksplorasi dilakukan untuk membangun komunikasi sekaligus menggali informasi awal. Setelah data pembanding terkumpul, wawancara memasuki tahap konfrontasi, untuk menguji konsistensi informasi.
Sementara tahap konfirmasi menjadi proses akhir, guna memastikan seluruh temuan telah diverifikasi sebelum dipublikasikan.
Usai membahas teknik wawancara, pelatihan dilanjutkan dengan materi Menyusun Narasi Investigatif, yang dipandu pemateri Tempo Institute, Yudono Yanuar.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana fakta-fakta yang telah dikumpulkan, diolah menjadi laporan investigasi yang utuh, tajam, dan mudah dipahami pembaca.
Yudono menekankan, laporan investigasi tidak seharusnya berputar-putar sebelum masuk ke inti persoalan.
Menurutnya, kalimat pembuka harus langsung mengungkap pokok masalah, menunjukkan adanya dugaan pelanggaran atau persoalan penting, sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.
Selain itu, peserta dibekali teknik mengorganisasi data berdasarkan kronologi peristiwa, aliran dana dalam kasus dugaan korupsi, maupun hubungan antaraktor sehingga alur cerita menjadi lebih sistematis.
“Temukan narasi kuat yang dapat menjadi benang merah dari semua data dan informasi yang ada,” menjadi salah satu pesan utama, yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Sebagai bagian dari praktik, para peserta yang telah dibagi dalam beberapa kelompok menyusun Terms of Reference (TOR), untuk rencana liputan investigasi berdasarkan isu yang dipilih.
Hasil penyusunan TOR, kemudian dipresentasikan dan dikritisi oleh kelompok lain sebagai bagian dari proses evaluasi.
Kegiatan Up-Skilling & Site Visit Media 2026 merupakan program kolaborasi PT Vale Indonesia dan Tempo Institute, yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan.
Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi jurnalis dalam peliputan investigatif, verifikasi data, etika jurnalistik, keamanan jurnalis, hingga jurnalisme data.












