MAKASSAR, INKAM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Barat mengingatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk meningkatkan kewaspadaan dan literasi keuangan, agar terhindar dari berbagai modus penipuan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Peringatan ini disampaikan Meilthon Purba dari OJK Sulselbar, dalam bincang ekonomi bertajuk “Mengelola Uang di Tengah Dinamika Global: Seberapa Aman Tabungan Kita?” yang digelar Tiga Warna Media Network di Makassar Creative Hub Losari, pada Rabu (20/5/2026).
Meilthon menekankan langkah sederhana namun penting, dalam mengelola keuangan rumah tangga. “Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membiasakan mencatat pengeluaran dan menyisihkan uang secara disiplin,” ujarnya.
Menurut Meilthon, Indonesia saat ini menempati peringkat kedua, negara paling rentan terhadap penipuan keuangan secara global.
Masyarakat cenderung menggunakan produk keuangan tanpa memahami risikonya, sehingga sangat mudah terjerat investasi bodong, pinjaman online (pinjol) ilegal, dan berbagai modus penipuan lainnya.
Data OJK menunjukkan, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 66,46 persen.
Sepanjang periode yang dilaporkan, OJK menerima 872.395 laporan rekening yang diindikasikan terkait penipuan.
“Faktanya, perempuan menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban penipuan keuangan, seperti investasi ilegal dan pinjol,” kata Meilthon.
Acara yang mengajak para ibu rumah tangga sebagai peserta utama ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan mengelola keuangan keluarga, sehingga tabungan dan aset rumah tangga lebih terlindungi dari berbagai risiko penipuan di era digital.












