MAKASSAR, INKAM – Stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sulampua), menunjukkan tren pertumbuhan positif di sejumlah lini, terutama pada sektor perbankan dan pasar modal.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2025, penyaluran kredit perbankan di wilayah ini tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp434,77 triliun.
Dari jumlah tersebut, porsi terbesar disumbang oleh kredit konsumtif sebesar Rp224,16 triliun atau 51,65 persen dari total kredit.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengungkapkan, pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK), mencerminkan optimisme sektor perbankan, dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Sulampua tercatat sebesar 127,33 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) terjaga di angka 2,65 persen, menandakan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan sehat.
Di sektor pasar modal, jumlah investor juga terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Per Mei 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) di wilayah Sulampua tercatat sebanyak 1.039.219 SID, meningkat 20,22 persen yoy.
Mayoritas investor masih berinvestasi di reksa dana, namun pertumbuhan tertinggi justru terjadi pada instrumen saham yang tumbuh sebesar 28,40 persen.
Ini mencerminkan, semakin kuatnya minat masyarakat untuk berinvestasi secara langsung di pasar saham. Total nilai transaksi saham sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd) hingga Mei 2025 mencapai Rp22,47 triliun.
Sementara itu, sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di wilayah Sulampua juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan.
Total pembiayaan dari perusahaan pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya, per April 2025 tercatat sebesar Rp52,374 triliun, tumbuh 7,47 persen yoy.
Meski perusahaan modal ventura mencatatkan kontraksi sebesar 7,02 persen, sektor pergadaian justru menunjukkan pertumbuhan positif dengan total pinjaman Rp19,114 triliun atau naik 30,20 persen yoy.
Kinerja paling mencolok terlihat pada sektor fintech peer-to-peer (P2P) lending, yang mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp5,454 triliun, tumbuh signifikan sebesar 57,58 persen.
Menurut Muchlasin, angka-angka tersebut menegaskan, sektor jasa keuangan di Sulampua tidak hanya stabil, tetapi juga adaptif terhadap transformasi digital dan perubahan preferensi konsumen.
“Kami mendorong pelaku industri, untuk terus memperkuat inovasi dan literasi keuangan, agar masyarakat makin mudah mengakses layanan keuangan yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan,” tutupnya.












