MAKASSAR, INKAM – Bagi para tokoh publik, memulai hari sejak subuh bukan sekadar rutinitas ibadah.
Lebih dari itu, subuh dianggap sebagai waktu emas yang membawa berkah, kejernihan pikiran, serta momentum ideal untuk mengatur prioritas hidup dan pekerjaan.
Hal ini menjadi obrolan hangat saat Dr Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, ngopi santai selepas Salat Subuh di Warkop Bahagia, Jalan Pemuda, Kota Soppeng, Selasa (10/6/2025).
IAS menyebut, dirinya banyak belajar dari para tokoh hebat, yang selalu menempatkan waktu subuh sebagai kunci produktivitas dan kesuksesan hidup mereka.
“Waktu subuh adalah saat otak bekerja paling optimal. Para tokoh besar yang saya kenal mengawali hari dari subuh, bukan hanya karena spiritualitas, tapi juga karena memang itulah jam emas mereka,” ungkap mantan Wali Kota Makassar dua periode ini.
Senada dengan IAS, Selle KS Dalle membagikan pengalamannya, tentang seorang pengusaha nasional yang sukses membangun jejaring bisnis, hanya dengan memaksimalkan waktu sebelum dan sesudah subuh.
“Saya menyaksikan langsung, bagaimana urusan penting hanya dijalankan sejak sebelum subuh hingga pukul 9 pagi. Setelah itu, sisanya untuk aktivitas nonprioritas. Mereka yang tidak bisa ikut ritme ini, pelan-pelan keluar dari circle-nya,” tutur Selle.
Bagi Selle, cara pandang tersebut sangat layak ditiru, karena menggabungkan antara produktivitas tinggi dan spiritualitas yang kuat.
“Kuncinya memang pada manajemen waktu subuh. Di situlah titik awal hari ditentukan,” tambahnya.
Pertemuan IAS dan Selle bukan tanpa alasan. IAS tengah berada di Soppeng, untuk bersilaturahmi dengan DPD II Partai Golkar setempat, menjelang Musda Golkar Sulsel, yang diperkirakan berlangsung awal Agustus mendatang.
Usai berjamaah Salat Subuh di Masjid Agung Darussalam, keduanya melanjutkan dengan diskusi ringan bersama warga di Warkop Bahagia.
Obrolan tersebut kian hangat, karena diikuti sejumlah jemaah dari masjid-masjid sekitar, yang ikut nimbrung semeja.
Menariknya, Wabup Soppeng turut mentraktir semua pengunjung pagi itu.
Kebersamaan yang lahir dari momentum subuh ini menjadi contoh nyata, bahwa produktivitas, kepedulian sosial, dan nilai-nilai spiritual dapat berjalan beriringan—bahkan bermula dari secangkir kopi hangat di waktu yang berkah.












