INKAM, JAKARTA – Pasar Modal Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2024, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar -2,65% secara year to date (ytd), berada di posisi 7.079,91 poin pada akhir tahun.
Nilai kapitalisasi pasar justru tumbuh 5,74% ytd, mencapai Rp12,33 ribu triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal berhasil mencatatkan kinerja yang menjanjikan.
Sepanjang 2024, dana yang dihimpun melalui Penawaran Umum mencapai Rp259,24 triliun, dengan 43 emiten baru yang melantai di bursa.
Angka ini menunjukkan tingginya minat perusahaan, untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.
Pertumbuhan juga terlihat pada produk Reksa Dana. Asset Under Management (AUM) tercatat meningkat 1,44% ytd, mencapai Rp840,6 triliun.
Sementara itu, dana yang dihimpun melalui Securities Crowdfunding (SCF) mencapai Rp1,35 triliun, dengan partisipasi dari 708 pelaku UKM melalui 16 platform SCF.
Perkembangan signifikan juga terjadi di pasar karbon.
Sejak diluncurkan pada 26 September 2023, volume transaksi karbon mencapai 908 ribu ton CO2 ekuivalen, dengan total nilai transaksi akumulasi Rp50,64 miliar hingga akhir 2024.
Sebanyak 100 perusahaan telah berpartisipasi sebagai pengguna jasa, dengan lebih dari 1,35 juta ton CO2 ekuivalen tersedia.
Jumlah investor juga menunjukkan pertumbuhan luar biasa.
Hingga 30 Desember 2024, jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat mencapai 14,8 juta, meningkat 22,21% ytd.
Menariknya, 79% dari total investor ini berasal dari kalangan muda berusia di bawah 40 tahun, mencerminkan potensi besar pasar modal di masa depan.
OJK optimis, kinerja pasar modal akan terus membaik, didukung oleh berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.
Dengan potensi besar yang dimiliki, pasar modal diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi Indonesia, pada tahun-tahun mendatang.












