Lompat ke konten utama

Info Kejadian Makassar

Dua Guru Besar dari Nigeria dan Amerika Serikat, Ajak Lulusan Unhas Mengubah Mimpi Menjadi Visi

MAKASSAR, INKAM – Sebuah gelar akademik menandai berakhirnya masa studi, tetapi bukan akhir dari proses belajar. Memasuki dunia profesional, keberhasilan seseorang akan ditentukan oleh kemampuannya mengubah mimpi menjadi visi, membangun jejaring, serta menjaga karakter dan integritas dalam setiap langkah.

Pesan tersebut menjadi benang merah yang disampaikan dua akademisi internasional, Prof. Babatunde Olamide Bamgbose dan Prof. Azeez Butali, pada prosesi Wisuda Universitas Hasanuddin.

Di hadapan para wisudawan, Prof. Babatunde Olamide Bamgbose, Guru Besar Oral and Maxillofacial Radiology dari Bayero University, Kano, Nigeria, mengajak lulusan Unhas untuk berani memiliki mimpi besar.

Menurutnya, setiap inovasi, kepemimpinan, maupun pencapaian berawal dari keberanian seseorang, membayangkan masa depan yang ingin diwujudkan.

Namun, mimpi tidak akan menghasilkan perubahan apabila berhenti sebagai angan. Ia menekankan bahwa mimpi perlu ditransformasikan menjadi visi yang jelas, disertai tujuan yang terukur dan langkah yang konsisten.

Visi tersebut kemudian harus dikomunikasikan secara efektif, agar mampu menggerakkan orang lain, membangun kepercayaan, serta melahirkan kolaborasi.

“Belajarlah untuk bermimpi. Bermimpilah besar. Setelah itu, ubahlah mimpi menjadi visi. Ketika memiliki visi, komunikasikan dengan jelas sehingga orang lain memahami tujuan yang ingin Anda capai,” ujarnya.

Menurut Prof. Bamgbose, komunikasi merupakan salah satu fondasi kepemimpinan. Banyak peluang lahir bukan semata karena kecerdasan akademik, melainkan karena kemampuan membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, karakter, dan tujuan bersama.

Baca Juga  Afgan dan Last Child Menutup Rangkaian Phinisi Hospitality Fair 2023

Pengalaman tersebut, katanya, juga mengantarkannya menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin. Hubungan akademik yang bermula dari komunikasi dengan sivitas Fakultas Kedokteran Gigi, berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas bersama pimpinan universitas.

Ia mengaku terkesan dengan arah pengembangan Universitas Hasanuddin, yang dinilainya memiliki visi yang jelas untuk terus meningkatkan daya saing di tingkat global.

Kepemimpinan universitas, menurutnya, berhasil membangun budaya kolaborasi, yang mempertemukan akademisi dari berbagai negara dalam satu tujuan bersama.

“Saya melihat Unhas memiliki arah yang jelas. Orang-orang di dalamnya memahami apa yang ingin dicapai dan terus bekerja bersama untuk mewujudkannya. Visi seperti inilah yang membangun kepercayaan dalam sebuah kolaborasi,” tuturnya.

Prof. Bamgbose menutup pesannya, dengan mengingatkan para wisudawan, agar tetap berjalan bersama visi yang dimiliki, menjaga karakter, serta menghargai orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Sementara itu, Prof. Azeez Butali, Guru Besar Oral Pathology, Radiology and Medicine dari The University of Iowa, Amerika Serikat, mengajak para lulusan memaknai wisuda, sebagai hasil dari perjalanan panjang yang tidak ditempuh seorang diri.

Menurutnya, setiap keberhasilan merupakan akumulasi dari proses belajar, pengembangan keterampilan, pengalaman menghadapi tantangan, hingga keberanian bangkit dari kegagalan. Seluruh pengalaman tersebut membentuk kompetensi sekaligus karakter seorang profesional.

Ia menegaskan bahwa di balik setiap lulusan selalu ada keluarga, dosen, mentor, sahabat, dan lingkungan akademik yang berperan sebagai support system.

Baca Juga  Lima Tahun Pimpin Unhas, Prof JJ Cetak Ribuan Beasiswa, Siapkan Tembus Panggung Dunia

Kehadiran mereka menjadi faktor penting yang membuka peluang, memberikan rekomendasi, membimbing, dan mendorong seseorang untuk terus berkembang.

“Jangan pernah menganggap keberhasilan sebagai pencapaian individu. Akan selalu ada orang-orang yang mendukung, membimbing, dan membuka pintu kesempatan bagi perjalanan Anda,” ungkapnya.

Prof. Butali mengajak para wisudawan, untuk tidak melupakan rasa syukur kepada keluarga dan seluruh sivitas akademika, yang telah menjadi bagian dari proses pendidikan mereka.

Baginya, menghargai setiap bentuk dukungan merupakan fondasi, dalam membangun kepemimpinan yang rendah hati dan berintegritas.

Kehadiran kedua akademisi internasional tersebut, memberikan perspektif bahwa kompetensi akademik merupakan salah satu modal dalam membangun masa depan.

Di era yang semakin terhubung, kemampuan mengembangkan visi, berkomunikasi secara efektif, membangun jejaring global, serta menjaga karakter menjadi kompetensi yang sama pentingnya bagi para lulusan perguruan tinggi.

Melalui pesan yang mereka sampaikan, prosesi Wisuda Universitas Hasanuddin tidak sekadar menjadi perayaan atas keberhasilan menyelesaikan studi, tetapi juga menjadi momentum untuk menegaskan, bahwa perjalanan sesungguhnya baru dimulai.

Mimpi yang besar, visi yang jelas, kolaborasi yang kuat, dan integritas dalam berkarya akan menjadi bekal utama bagi lulusan Unhas, dalam memberi kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah