MAKASSAR, INKAM — Fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi pada Selasa malam, 3 Maret 2026, menjadi momentum refleksi spiritual bagi jamaah, di Masjid Subulussalam Al-Khoory Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Dalam khutbah Salat Gerhana Bulan (Khusuf), Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A., menegaskan, gerhana merupakan tanda kebesaran Allah SWT dan bagian dari sunnatullah, yang mengatur keteraturan alam semesta.
Menurutnya, matahari dan bulan bukanlah benda yang bergerak sendiri, melainkan ciptaan Allah yang beredar sesuai ketetapan-Nya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 33, yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan malam dan siang, serta menjadikan matahari dan bulan beredar pada garis edarnya masing-masing.
KH Abbas juga mengingatkan, gerhana tidak berkaitan dengan mitos, kematian seseorang, ataupun peristiwa tertentu. Ia merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, yang meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa lalu.
Dalam khutbahnya, ia menegaskan, ketika terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti salat, doa, memohon ampunan, serta bersedekah.
“Gerhana adalah momentum terbaik untuk memperbanyak doa kepada Allah SWT, dan menyampaikan hajat-hajat kita,” ujar Abbas di hadapan jamaah.
Selain itu, ia juga mengajak umat untuk memperbanyak sedekah, sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama, terutama di bulan suci Ramadan.
Menurutnya, ibadah gerhana bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana muhasabah atau refleksi diri, agar manusia semakin sadar akan kebesaran Allah dan keterbatasan dirinya.
Rangkaian ibadah malam itu berlangsung penuh kekhusyukan, dimulai dari Salat Magrib, Salat Isya, Salat Gerhana, hingga Tarawih, yang dilaksanakan secara berjamaah di Masjid Subulussalam Unismuh Makassar.












