MAKASSAR, INKAM – Kenaikan harga emas yang signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026, memberikan dampak langsung terhadap kinerja PT Pegadaian Kanwil VI Makassar.
Emas kini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan bisnis pembiayaan.
Kepala Departemen Bisnis Support Pegadaian Kanwil VI Makassar, Nuzul Rahmat, menyebut harga emas mengalami lonjakan luar biasa dalam waktu kurang dari satu tahun.
Ia mencontohkan, dana Rp16 juta yang tahun lalu masih bisa digunakan membeli emas 50 gram, kini bahkan tak cukup untuk membeli 10 gram.
“Sekarang 10 gram itu sekitar Rp29 juta. Selisihnya sangat jauh. Ini menunjukkan daya simpan uang tunai kalah dibanding emas,” ujarnya.
Menurut Nuzul, fenomena tersebut mendorong masyarakat beralih dari sekadar menyimpan uang menjadi mengonversinya ke aset produktif.
“Tidak ada yang bisa kasih keuntungan Rp13 juta, dalam waktu delapan bulan kalau hanya simpan uang,” katanya.
Ia mengaitkan kondisi ini dengan pernyataan Sri Mulyani tentang aset produktif. Di mana di negara maju, aset bekerja menghasilkan nilai, sementara di Indonesia aset sering kali dibiarkan tidak produktif.
Dari sisi kinerja, Pegadaian Makassar mencatat pertumbuhan 6,97 persen hanya dalam satu bulan pada Januari 2026.
Dari angka tersebut, sekitar 50 persen disumbang oleh produk logam mulia, baik investasi, cicil emas, maupun gadai emas.
“Kenaikan harga emas otomatis meningkatkan nilai pembiayaan. Dulu gadai 1 gram cuma dapat Rp1 juta, sekarang bisa lebih dari Rp2 juta,” jelasnya.
Nuzul menilai tren ini akan terus berlanjut. Harga emas sempat menyentuh Rp3,1–3,2 juta per gram dan meski terkoreksi tipis, secara historis grafik emas cenderung naik. Ia memprediksi harga emas hingga akhir tahun bisa mencapai Rp3,5–3,7 juta per gram.
“Emas itu investasi jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir grafiknya selalu naik. Koreksi itu wajar,” pungkasnya.















