Info Kejadian Makassar

Tim FIKP Unhas Buat Sambal Awet Tanpa Pengawet

MAKASSAR, INKAM – Tim Pengabdian dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Botolempangan, Kabupaten Maros, Sabtu (12/7/2025).

Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Indonesia, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unhas.

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk pengolahan produk berbasis udang dan ikan bandeng. “PKM diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil tambak,” ujar Kegiatan Ketua Tim Dr. Syahrul, SPi, MSi.

Selain dihadiri Sekretaris Departemen Perikanan FIKP Unhas, Muh. Tauhid Umar SPi, MP kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, dan Kepala Dusun Ujung Bulu sekaligus membuka kegiatan.

Sementara itu, mitra kegiatan ini adalah Kelompok Melati Jaya, yang beranggotakan 10 orang ibu-ibu istri dan keluarga pengelola tambak di Desa Botolempangan.

Kegiatan ini bertujuan, untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok tentang diversifikasi produk, untuk meningkatkan nilai tambah udang dan ikan bandeng, yang selama ini umumnya dijual dalam bentuk segar, selain dikonsumsi pada tingkat rumah tangga.

Pengabdian ini dilaksanakan, karena masih kurangnya pemanfaatan udang dan ikan bandeng oleh masyarakat di Desa Botolempangan.

“Padahal desa tersebut, dikenal sebagai salah satu penghasil udang dan bandeng di Kabupaten Maros,” ujar salah seorang pemateri Kasmiati, STP, MP, Ph.D.

Baca Juga  Dari Energi hingga Pembiayaan: IKATEK Forum 2026 Bekali Alumni Teknik Unhas

Kasmi menjelaskan, karena sebagian besar hasil tambak dijual dalam bentuk segar, menyebabkan nilai tambah kedua komoditi unggulan tersebut tergolong rendah, dan belum berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, maka bandeng dan udang belum bisa menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

Ketua tim, Syahrul, berharap, setelah mengikuti kegiatan pelatihan, peserta yang didampingi Tim Unhas dapat mengolah udang dan bandeng, menjadi produk berekonomi tinggi.

Salah satu materi pelatihan adalah pembuatan sambal awet tanpa pegawet, yang bahan utamanya udang dan bandeng.

Pemilihan sambel berbasis udang dan bandeng, merupakan salah satu implementasi hasil penelitian, dengan menerapkan teknologi tepat guna, kombinasi suhu tinggi dan tekanan vakum untuk pengawetan.

Sambal dikenal masyarakat secara luas yang dikonsumsi pada tingkat rumah tangga, dijual di berbagai gerai, disajikan di restoran, dan menjadi salah satu bekal orang bepergian, termasuk menunaikan ibadah umrah dan haji.

Inovasi sambal yang dihasilkan dalam kegiatan ini, memiliki umur simpan hingga 5 bulan pada suhu ruang, yang memungkinkan sambel aman dikonsumsi oleh penggemarnya, tanpa perlakuan penyimpanan dalam lemari pendingin.

Kegiatan diawali dengan serah terima alat dan barang penerapan teknologi tepat guna, serta bahan pembuatan produk, penyuluhan gizi udang dan bandeng serta potensi pengolahannya, menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Setelah acara seremonial, kegiatan dilanjutkan dengan praktek pembuatan sambal dalam 2 varian, yaitu merah dan hijau.

Baca Juga  Enam Dosen Unhas Masuk Daftar Ilmuwan Terbaik Dunia, Prestasi Gemilang Tingkatkan Reputasi Kampus

Pemilihan bahan baku udang dan bandeng yang segar dengan ciri-ciri tertentu, penting diketahui oleh kelompok, untuk menghasilkan produk olahan yang berkualitas.

Narasumber juga menekankan pentingnya penerapan higienitas dan sanitasi, dalam pengolahan produk untuk menjaga keamanan dan estetika produk, misalnya menggunakan sarung tangan saat mengolah produk untuk menghindari kontaminasi, dan menggunakan peralatan termasuk wadah yang bersih dan kering.

Praktek pembuatan sambal berlangsung lancar, dengan partisipasi aktif semua peserta. Anggota kelompok cukup antusias mengikuti kegiatan, dan terlibat langsung dalam semua tahap pembuatan sambel, mulai dari persiapan bahan hingga pengemasan.

Selain pengolahan sambal, narasumber juga menyampaikan pentingnya kemasan produk yang menarik.

Salah satu cara produk tampil menarik, yaitu menggunakan kemasan yang dilengkapi stiker yang berisi informasi produk, seperti nama merek, contohnya Kelompok Melati Jaya yang memproduksi.

Sebagai daerah dengan posisi strategis, yang menghubungkan Kota Makassar dengan beberapa kabupaten dalam provinsi Sulawesi Selatan dan lalu lintas trans Sulawesi, masyarakat Kabupaten Maros memiliki peluang mendapat keuntungan, dengan menyediakan berbagai jenis kuliner termasuk aneka sambel di rest area.

Selain itu, jarak yang cukup dengan dengan Kota Makassar, juga membuka kesempatan untuk mengambil peran, dengan mensuplai aneka aneka sambal berbahan dasar udang dan bandeng.

Hal tersebut tentunya memberikan keuntungan kepada para pelaku usaha, termasuk Kelompok Melati Jaya dari Kab. Maros.

Baca Juga  Empat Guru Besar Unhas Dikukuhkan dalam Rapat Paripurna Senat Akademik

Penghargaan yang tinggi kepada LPPM UNHAS, atas izin dan dukungan penyaluran dana, sehingga program pengabdian kepada masyarakat ini terselenggara dengan baik.

Apresiasi atas keterlibatan mahasiswa yang beraktivitas diluar kampus, dengan rekognisi setara dengan 6 SKS, partisipasi mahasiswa merupakan dukungan nyata terselenggaranya kegiatan ini.

Kelompok Melati Jaya yang telah memfasilitasi kegiatan ini, dalam menyediakan udang dan bandeng segar serta terlibat sebagai peserta pelatihan.

WhatsApp Image 2026-05-11 at 15.37.05
Market Sessions

Berita Terbaru

CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah
CAPCUSJP CAPCUSJP CLBKTOTO