MAKASSAR, INKAM – Tak semua orang bisa menyatukan hobi dan profesi, dalam satu irama kehidupan. Tapi Mustahab Nur Iman berhasil melakukannya dengan elegan.
Di balik kesibukannya sebagai Director of Sales & Marketing MaxOne Hotel & Resort Makassar, pria yang akrab disapa Amank ini punya panggilan hati lain: menyanyi di atas panggung.
Bukan sekadar mengisi waktu luang, dunia musik bagi Amank adalah ruang tumbuh, tempat dirinya mengekspresikan diri sekaligus membangun koneksi.
“Buat saya, menyanyi itu bukan cuma soal hobi. Justru dari panggung saya bisa bertemu banyak orang, menjalin relasi, dan membuka peluang yang bahkan tak saya bayangkan sebelumnya,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.
Awal yang Sederhana, Langkah yang Konsisten
Kisah musik Amank dimulai sejak duduk di bangku SMP, saat ia tergabung dalam sebuah band sebagai gitaris.
Tak butuh waktu lama, ia menemukan panggilannya di depan mikrofon sebagai vokalis.
Sejak SMA, Amank mulai rutin tampil di berbagai kafe di Makassar. Tahun 1998 adalah titik awalnya sebagai penyanyi kafe, membuka jalan panjang yang masih ia jalani hingga hari ini.
“Saya masih sekolah waktu itu. Tapi rasanya luar biasa bisa tampil di depan banyak orang,” kenangnya. Sejak itu, panggung menjadi rumah keduanya.
Antara Teknik dan Seni
Meski cintanya pada musik begitu kuat, Amank memilih kuliah di Teknik Elektro Universitas Negeri Makassar, sesuai harapan orang tua.
Namun semangat seninya tak pernah padam. Ia justru kerap bergaul dengan mahasiswa Fakultas Seni, ikut latihan musik tradisi, hingga sempat menjadi guru pengganti di Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI).
“Waktu itu saya sempat dianggap aneh, bahkan dicurigai karena terlalu sering nongkrong dengan anak Seni. Tapi justru dari situ saya belajar banyak, bukan cuma soal musik, tapi juga budaya dan kehidupan,” tuturnya.
Musik Sebagai Jembatan Sosial dan Profesional
Kini, di balik kesibukannya di hotel, Amank tetap aktif tampil bersama band-nya, Sugar Daddy, yang mengusung musik kekinian dengan sentuhan gaya TikTok.
Ia tampil reguler di berbagai kafe ternama Makassar, dan juga di banyak acara publik seperti festival hingga pesta pernikahan.
Yang menarik, dari panggung inilah jaringan profesionalnya justru tumbuh.
“Banyak sekali relasi yang saya bangun dari sini. Kadang penonton yang datang itu pengusaha, pejabat, bahkan calon mitra bisnis. Obrolan ringan setelah tampil bisa jadi pertemuan bisnis berikutnya,” jelasnya.
Bagi Amank, menyanyi telah menjadi alat komunikasi yang kuat—tanpa perlu formalitas berlebihan.
Musik membuka ruang kepercayaan, kedekatan emosional, dan memunculkan peluang yang tidak bisa didapatkan dari ruang rapat biasa.
Dukungan Keluarga dan Konsistensi
Kesibukannya ini didukung penuh oleh keluarganya, terutama sang istri yang kerap hadir di antara penonton.
“Saya bersyukur, istri saya mendukung penuh. Dia juga menikmati saat saya tampil,” katanya tersenyum.
Melalui musik, Amank membuktikan bahwa hobi tak harus menjadi sekadar pelarian. Jika dijalani dengan konsisten dan tulus, ia bisa menjadi jembatan menuju peluang yang lebih besar—bukan hanya dalam karier, tapi juga dalam hubungan antarmanusia.
“Saya nggak pernah menyangka, dari nyanyi di kafe waktu sekolah dulu, saya bisa bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Bahkan beberapa dari mereka kini jadi mitra kerja saya,” pungkasnya.















