MAKASSAR, INKAM – Di tengah rutinitas yang padat dan dinamika pekerjaan yang terus bergerak cepat, Rina Dwi Noviani, Manager Corporate Communications Telkomsel area Pamasuka, menemukan ruang untuk kembali pada dirinya.
Bukan di mal atau kafe mewah, tapi di jalanan Makassar, ditemani sepedanya dan hangatnya pertemanan dalam komunitas. “Kalau hobi sebenarnya sih salah satunya memang sepeda,” ucapnya memulai cerita.
Rina mulai menekuni hobi bersepedanya sejak pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Saat itu, banyak orang beralih ke aktivitas luar ruang untuk menjaga kesehatan, dan bersepeda menjadi pilihan populer.
Namun, bagi Rina, apa yang semula hanya ikut arus, berubah menjadi bagian penting dari hidup. “Sudah sekitar lima tahun ini,” katanya, mengenang awal mula rutinitas pagi yang kini jadi gaya hidup.
“Sepeda itu enaknya, bukan hanya olahraga tapi juga bisa bersilaturahmi,” ujarnya.
Bagi Rina, mengayuh pedal tak sekadar melatih otot paha atau menjaga tulang agar tak mudah rapuh. Sepeda jadi media memperkuat koneksi sosial, terutama dengan komunitas seperti Bromaks – komunitas pengguna sepeda Brompton di Makassar – dan Halobrompt yang digagas rekan-rekan Telkomsel.
Yang menarik dari komunitas ini, kata Rina, adalah keberagaman anggotanya. Ada yang bekerja di bank, ada pula dari instansi pemerintah seperti PUPR. “Dari yang tadinya gak kenal, akhirnya jadi kenal,” tuturnya.
Di sinilah letak kekuatan sepeda: membangun jembatan silaturahmi antarprofesi, yang jarang bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari.
Jadwal rutin pun terbentuk: Jumat pagi bersama rekan kantor, dan Sabtu-Minggu bersama Bromaks. Rute-rute favorit mereka pun beragam, dari putaran ringan di sekitar Jalan AP Pettarani hingga tanjakan menantang ke Bantimurung sejauh 60 km.
“Biasanya start dari Telkom. Capeknya nggak terasa karena ramai-ramai,” katanya sembari tertawa. Di titik tertentu, mereka berhenti untuk foto, menikmati suasana sawah atau sekadar berbagi cerita.
Bersepeda: Lebih dari Sekadar Olahraga
Tak heran jika bagi Rina, sepeda bukan sekadar alat olahraga, melainkan “alat untuk bahagia”. Ada tiga hal yang ia dapat dari satu kegiatan ini: sehat, silaturahmi, dan kebahagiaan.
“Daripada ke mal, mending olahraga. Dapet sehatnya, dapet silaturahminya, dapet happy-nya,” ujarnya penuh semangat.
Terlebih lagi, sebagai perantau yang jauh dari keluarga, komunitas ini memberi rasa kedekatan. “Bangun tidur, bingung mau ngapain. Ya udah, isi waktu dengan olahraga dan ngobrol sama teman,” katanya.
Pilihannya jatuh ke Brompton, sepeda lipat asal Inggris yang ringan dan praktis. Cocok untuk dibawa dalam perjalanan, bahkan naik pesawat. “Kalau naik Garuda, gratis. Kalau grup Lion bayar 200 ribu,” jelasnya.
Ia bahkan pernah membawa sepedanya ke Yogyakarta, dan menjajal rute sejauh 100 km. “Yang paling menarik ya di Jogja. Pemandangannya bagus, jadi sering ada event di sana,” kisahnya.
Bagi Rina, bersepeda adalah bentuk perawatan diri. “Usia segini kita harus menguatkan topangan kaki,” ucapnya bijak.
Bukan semata mengejar bentuk tubuh, tapi lebih kepada membangun fondasi kesehatan jangka panjang. Sepeda adalah bentuk afirmasi bahwa kita masih bisa bergerak, bertemu, dan menjadi versi terbaik dari diri kita.
“Naik sepeda itu kesehatan ada, rekreasinya ada, silaturahmi ada. Lengkaplah,” tutur Rina.
Hobi tak harus atau rumit. Seperti yang ditunjukkan Rina, bersepeda adalah cara sederhana namun bermakna untuk menemukan kebugaran fisik, ketenangan batin, dan koneksi sosial.
Di jalan yang terus berkelok, di antara terik dan tanjakan, ia menemukan harmoni: antara tubuh yang bergerak, hati yang senang, dan hidup yang terus bergulir.












