INKAM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, yang menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman dan akses keuangan, di kalangan masyarakat desa dan perempuan.
Meskipun indeks nasional mengalami peningkatan, literasi keuangan perempuan tercatat lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan Metode Keberlanjutan, indeks literasi keuangan laki-laki mencapai 67,32 persen, sementara perempuan hanya 65,58 persen.
Sementara itu, inklusi keuangan relatif seimbang, yakni 80,73 persen untuk laki-laki dan 80,28 persen untuk perempuan.
Kesenjangan yang lebih signifikan terlihat, antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Indeks literasi keuangan masyarakat perkotaan berada di angka 70,89 persen, jauh di atas masyarakat perdesaan yang hanya 59,60 persen.
Inklusi keuangan masyarakat desa juga lebih rendah, hanya 75,70 persen dibandingkan 83,61 persen di kota.
OJK juga menyoroti kelompok usia tertentu yang menunjukkan tingkat literasi rendah, khususnya kelompok 15–17 tahun dan 51–79 tahun.
Kedua kelompok ini masing-masing mencatat, indeks literasi hanya sebesar 51,68 persen dan 54,55 persen, serta inklusi keuangan di bawah 75 persen.
Disparitas juga muncul berdasarkan tingkat pendidikan. Kelompok dengan pendidikan tinggi memiliki indeks literasi hingga 90,63 persen, dan inklusi mendekati 100 persen.
Sebaliknya, mereka yang tidak tamat SD hanya memiliki literasi sebesar 43,20 persen, dan inklusi 56,95 persen.
Kelompok profesi juga berpengaruh terhadap tingkat pemahaman keuangan. Pegawai, profesional, dan pengusaha memiliki literasi di atas 70 persen, sementara petani dan masyarakat tidak bekerja masih tertinggal jauh.
Menanggapi hasil ini, OJK menegaskan komitmennya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan masyarakat rentan, termasuk perempuan, penduduk desa, kelompok usia lanjut dan pendidikan rendah, sesuai dengan Peta Jalan Pengawasan 2023–2027.












