INKAM, JAKARTA – Maraknya kasus penipuan digital, menjadi perhatian utama dalam kegiatan edukasi keuangan bagi perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang digelar OJK, Bank Indonesia, dan KP2MI, dalam rangka Hari Kartini 2025.
Para PMI diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai skema penipuan yang mengintai, terutama di era digitalisasi keuangan saat ini.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menekankan pentingnya pelindungan konsumen, melalui Kampanye Konsumen Cerdas PeKA (Peduli, Kenali, Adukan).
“PMI harus melek digital, dan paham bahwa transaksi keuangan yang mudah juga mengandung risiko penipuan, jika tidak disikapi secara cermat,” ujar Destry.
Hal senada disampaikan Kepala Eksekutif OJK Friderica Widyasari Dewi.
Ia menyoroti banyaknya modus kejahatan finansial, yang menyasar pekerja migran yang pulang ke tanah air, dengan membawa hasil kerja keras.
“Jangan sampai kerja keras dan air mata itu berujung zonk karena tertipu,” tegasnya.
Menurut Friderica, peningkatan literasi keuangan bukan sekadar soal menabung atau investasi, melainkan juga soal membangun kesadaran akan risiko-risiko keuangan.
“PMI perempuan berperan besar dalam menyokong keluarga, mereka wajib paham cara mengelola uang sekaligus menghindari jebakan penipuan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, OJK dan BI berharap, para PMI dapat menjadi agen perubahan literasi keuangan di lingkungannya.
Pengetahuan finansial yang mereka miliki, diharapkan bisa menular ke komunitas dan keluarga, menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan mandiri.












