Info Kejadian Makassar

Jalan Jampea Makassar Berganti nama, Siapakah Ho Eng Djie?

INKAM, MAKASSAR – Ho Eng Djie kini semakin dikenal, setelah Jalan Jampea di Kota Makassar resmi berganti nama menjadi Jalan Ho Eng Djie.

Namun, siapakah sebenarnya sosok Ho Eng Djie, dan apa jasanya bagi budaya dan seni di Sulawesi Selatan?

Lahir dari Keluarga Sederhana, Mengukir Jejak di Dunia Seni
Ho Eng Djie lahir sekitar tahun 1906 atau 1907 di Kassi Kebo, Maros, Sulawesi Selatan.

Ia berasal dari keluarga peranakan Tionghoa yang hidup sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang kaca, sementara ibunya, Liem Tien Nio, diyakini memiliki garis keturunan dari Kapitan China di Makassar.

Meski sempat mengenyam pendidikan di sekolah Melayu di Makassar, keterbatasan ekonomi membuatnya harus berhenti sekolah dan mulai bekerja di usia 13 tahun.

Pekerjaannya membawanya berkeliling ke berbagai kepulauan di timur Hindia Belanda, termasuk Ambon dan Buton.

Namun, di balik kesibukan bekerja, minatnya terhadap seni tetap tumbuh.

Sejak remaja, Ho Eng Djie telah menunjukkan bakat luar biasa dalam dunia musik dan puisi.

Ia sering menampilkan puisi-puisi filosofis dan lagu-lagu tradisional Makassar, yang diiringi dengan kecapi dan biola.

Selain sebagai musisi, Ho Eng Djie juga memiliki semangat kebangsaan yang tinggi.

Pada pertengahan 1920-an, ia mulai terlibat dalam gerakan anti-kolonial, dan bahkan sempat ditahan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1926, karena aktivitas politiknya.

Baca Juga  BIG Percepat Pelaksanaan Penyediaan Peta Dasar Skala Besar Wilayah Darat Sulawesi

Tahun berikutnya, ia mendirikan organisasi pemuda Sien Nien Thoan, yang menjadi wadah bagi pemuda peranakan Tionghoa, untuk berkontribusi dalam perjuangan nasional.

Namun, karena aktivitasnya yang semakin vokal, ia beberapa kali dilarang berbicara di ruang publik, dan sempat ditahan, karena lagu-lagunya dianggap mengandung pesan perlawanan terhadap kolonialisme.

Pada tahun 1938, Ho Eng Djie menjadi direktur kelompok musik Sinar Sedjati, yang berhasil menarik perhatian label rekaman Canary Record dari Surabaya.

Grup ini merekam sejumlah lagu dalam format piringan hitam, yang terjual hingga 10.000 keping.

Keberhasilan ini membuat musik Sulawesi, khususnya Makassar, semakin dikenal di berbagai daerah di Indonesia.

Tak hanya itu, ia juga mendirikan kelompok teater Sinar Matahari, yang semakin memperkaya khazanah seni di Makassar.

Namun, menjelang invasi Jepang, aktivitas seni dan pergerakannya sempat terhenti, karena situasi politik yang memanas.

Diundang Presiden Soekarno dan Menerima Gelar Kehormatan
Setelah Perang Dunia II, Ho Eng Djie kembali aktif berkarya, dan mendirikan grup musik Singara Kullu-Kulluwa, yang semakin memperkaya warna musiknya dengan tambahan instrumen seperti akordeon, kontrabas dan gitar.

Namanya semakin dikenal, hingga Presiden Soekarno mengundangnya ke Istana Negara pada Agustus 1953.

Dalam pertemuan itu, mereka berdiskusi tentang peran seni dalam memperkuat persatuan bangsa, serta musik daerah, sebagai bagian dari identitas nasional.

Soekarno bahkan memberikan gelar kehormatan kepada Ho Eng Djie sebagai “Doktor Bahasa Bugis-Makassar” atas dedikasinya dalam melestarikan budaya daerah.

Baca Juga  Pendaftaran SPMB 2026 Makassar Dimulai 8 Juni, Simak Tahapan dan Jadwal Lengkapnya

Sepanjang hidupnya, Ho Eng Djie diperkirakan telah menciptakan lebih dari 3.000 lagu, sebagian besar dalam gaya kelong Makassar.

Beberapa lagu ciptaannya, seperti Ati Raja dan Sailong, masih dinyanyikan hingga kini dan menjadi bagian dari identitas budaya Sulawesi Selatan.

Ho Eng Djie meninggal dunia pada 7 Maret 1960 atau 1962 (terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun wafatnya).

Namun, warisannya tetap hidup melalui karya-karyanya yang terus dikenang, dan dinyanyikan oleh generasi penerus.

Kini, dengan diresmikannya Jalan Ho Eng Djie di Kota Makassar, namanya semakin abadi sebagai simbol perjuangan dan dedikasi seorang seniman, yang telah mengangkat budaya Sulawesi ke pentas nasional.

WhatsApp Image 2026-05-11 at 15.37.05
Market Sessions

Berita Terbaru

CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah
CAPCUSJP CAPCUSJP CLBKTOTO