INKAM, MAKASSAR – Dr. KH M Saad Ibrahim, Ketua PP Muhammadiyah, membahas hubungan erat antara teks-teks agama Islam dan penemuan sains modern, khususnya dalam dunia kesehatan, dalam sebuah kuliah tamu di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Dengan tema ‘Perpaduan Ilmu Kesehatan dan Kesehatan Islam’, Saad Ibrahim menyampaikan pandangannya tentang bagaimana ajaran Islam dapat berdialog dengan temuan ilmiah, membawa manfaat bagi kesehatan umat manusia.
Saad Ibrahim memulai pembahasannya, dengan mengutip hadis populer tentang puasa dan kesehatan, “Shumu Tashihhu” yang berarti “Puasalah, niscaya kamu akan sehat”.
Meski hadis tersebut dianggap dhaif (lemah), Saad menjelaskan bahwa sebagian ulama tetap menerima hadis tersebut, untuk konteks yang bukan pokok, terutama karena manfaatnya yang terbukti secara empiris dalam dunia kesehatan.
“Pokok ajaran tentang puasa itu sendiri ada di Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 183,” jelas Saad.
Dalam kuliahnya, Saad juga menyinggung tentang penelitian ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang meraih Nobel atas temuannya tentang autofagi, proses di mana sel tubuh mendaur ulang bagian-bagian yang sudah tidak diperlukan.
Menurut Saad, penelitian ini sejalan dengan konsep puasa dalam Islam, di mana tubuh melakukan proses pembersihan dan regenerasi saat tidak ada asupan makanan.
“Yoshinori itu bukan seorang Muslim, tapi penelitiannya relevan dengan konsep puasa dalam Islam yang menyehatkan tubuh,” ujarnya.
Saad juga mengaitkan pandangan ini dengan pemikiran Ian Barbour, cendekiawan Amerika Serikat yang dikenal dengan teori When Science Meets Religion.
Barbour menyatakan bahwa sains dan agama bisa berdialog dan saling mendukung, meski Saad menegaskan bahwa dalam Islam, terutama Al-Qur’an, banyak penemuan ilmiah modern yang sudah disinggung jauh sebelumnya, seperti teori Big Bang yang disebutkan dalam surat Al-Anbiya.
“Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tak bisa ditembus oleh kritik ilmiah, karena sudah mendahului penemuan-penemuan modern,” kata Saad.
Lebih lanjut, Saad menekankan pentingnya kesehatan jiwa sebagai landasan kesehatan fisik, dengan Al-Qur’an menawarkan panduan spiritual yang harus diikuti.
Dia juga menekankan agar para dokter Muslim, khususnya di FK Unismuh Makassar, tidak mengklaim diri mereka sebagai penyembuh utama.
“Hanya Allah yang memiliki otoritas penyembuhan, dokter hanya bisa mendiagnosa dan memberikan pengobatan,” ujar Saad, mengutip ajaran Ibnu Sina yang menekankan aspek metafisik dalam proses penyembuhan.
Dr. Veni Hadju, Guru Besar di FK Unismuh Makassar dan jebolan Cornell University, mendukung pandangan Saad dengan menekankan bahwa inti ajaran Ibnu Sina bukanlah teknis kedokteran semata, melainkan kekuatan jiwa yang mempengaruhi kesehatan fisik.
Veni merekomendasikan agar kitab Asy-Syifa’ karya Ibnu Sina, menjadi bagian dari kurikulum dasar di FK Unismuh, mengingat relevansinya dengan kesehatan jiwa dan fisik dalam perspektif Islam.
“Penelitian ke arah ini sudah banyak, dan ajaran ini sangat cocok diajarkan di FK Unismuh,” pungkas Veni.















