MAKASSAR, INKAM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar terus memperkuat sistem farmakovigilans, dengan mendorong peran strategis tenaga kesehatan dalam pelaporan efek samping obat.
Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang digelar secara hybrid di Aula Bajiminasa BBPOM Makassar, 31 Maret 2026.
Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Strategis Tenaga Kesehatan Dalam Pelaporan Farmakovigilans Untuk Perlindungan Pasien” ini diikuti 60 tenaga kesehatan dari rumah sakit, puskesmas, dan klinik di wilayah Sulawesi Selatan.
Hadir pula perwakilan organisasi profesi, seperti HISFARSI dan HISFARKESMAS sebagai bentuk sinergi lintas sektor.
Kepala BBPOM di Makassar, Yosef Dwi Irwan, menegaskan, farmakovigilans merupakan kegiatan penting dalam mendeteksi, menilai, memahami, dan mencegah efek samping obat setelah beredar di masyarakat.
Menurutnya, sistem ini menjadi kunci dalam menjamin keamanan dan efektivitas obat bagi pasien.
Ia menjelaskan, sejarah farmakovigilans tidak lepas dari tragedi Thalidomide tragedy, yang menyebabkan kecacatan janin di berbagai negara.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting, bahwa risiko obat tidak selalu terdeteksi saat tahap uji klinis sebelum dipasarkan.
Namun demikian, Yosef mengungkapkan tingkat pelaporan kejadian tidak diinginkan, atau efek samping obat di Sulawesi Selatan masih tergolong rendah.
Dari total 737 fasilitas layanan kesehatan, hanya sekitar 38 sarana atau 5,12 persen yang aktif melaporkan.
“Peran tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan sangat penting dalam mendukung sistem farmakovigilans. Lima menit waktu yang digunakan untuk melaporkan dapat menyelamatkan ribuan nyawa,” tegasnya.
Ia pun berharap seluruh tenaga kesehatan dapat menjadi key player dalam pelaporan efek samping obat sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjamin keamanan, mutu, dan khasiat obat di Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan materi dari pakar farmakovigilans, Zullies Ikawati. Ia menekankan bahwa data farmakovigilans memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan regulasi obat serta meningkatkan kesadaran terhadap potensi risiko penggunaan obat.
Materi teknis juga disampaikan oleh Wilia Indarwanti terkait implementasi sistem pelaporan melalui e-MESO. Sistem ini memungkinkan tenaga kesehatan melaporkan efek samping obat secara lebih cepat dan terintegrasi, sehingga membantu proses deteksi dini risiko obat.
Selain itu, peserta juga mendapatkan simulasi langsung pembuatan akun e-MESO guna memperkuat pemahaman teknis pelaporan. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi aktif selama kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, BBPOM Makassar berharap terbangun komitmen bersama antara regulator dan tenaga kesehatan untuk memperkuat sistem farmakovigilans yang responsif dan andal, demi meningkatkan keselamatan pasien serta kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.












