MAKASSAR, INKAM – Rutinitas kerja yang padat dan tekanan target, bukan jadi alasan untuk melupakan kesehatan.
Di Browcyl, gaya hidup sehat justru jadi bagian dari budaya perusahaan.
Head Divisi Sales & Marketing Browcyl, Sunarti Anwar mengungkapkan, olahraga kini telah menjadi salah satu pilar penting, dalam keseimbangan hidup (life balance) para karyawan.
“Perusahaan sadar bahwa stres kerja zaman sekarang bukan cuma karena pekerjaan, tapi juga masalah pribadi. Makanya, kami diarahkan aktif berolahraga,” ujarnya.
Setiap minggu, karyawan memiliki jadwal rutin untuk lari sebanyak tiga kali: Selasa dan Kamis bersama grup kantor, sedangkan akhir pekan dilakukan secara mandiri.
Selain lari, Browcyl juga punya agenda olahraga lain seperti bulutangkis dan futsal. Menariknya, aktivitas ini masuk dalam Key Performance Indicator (KPI) karyawan.
Mereka wajib mengisi presensi olahraga secara daring, lengkap dengan bukti foto. “Olahraga jadi bagian dari penilaian akhir tahun,” jelas Sunarti.
Untuk mendukung semangat ini, perusahaan bahkan membentuk klub olahraga di tiap outlet.
Biaya kegiatan ditanggung penuh oleh perusahaan, termasuk jika ada event luar seperti Makassar Half Marathon.
“Waktu event itu, 15 orang ikut 10K dan 15 lagi ikut 21K, semua biaya ditanggung,” katanya.
Jam kerja yang dimulai pukul 09.00, juga memberi ruang bagi karyawan yang ingin lari pagi.
“Kalau sudah setor aktivitas pagi jam 6 sampai 7, tidak perlu ikut lari sore lagi. Begitu juga sebaliknya,” tambahnya.
Fleksibilitas ini membuat olahraga tidak jadi beban, tapi bagian dari gaya hidup menyenangkan.
Sunarti pribadi, awalnya tak menyangka akan menyukai lari. “Dulu saya pikir lari itu capek banget. Tapi setelah dijalani, tubuh terasa lebih ringan dan segar. Kalau seminggu tidak lari, rasanya ada yang hilang,” ungkapnya.
Bahkan sesekali, ia memilih berlari dari rumah ke kantor sebagai bentuk olahraga.
Motivasi terbesarnya datang dari sosok owner perusahaan. “Owner bilang, ‘Bu, rajin ki olahraga. Tidak mau ki lihat anak ta’ menikah?’ Kalimat itu menyentuh sekali. Saya langsung terbayang, jangan sampai nanti anak menikah, kita sakit-sakitan dan tak bisa hadir maksimal,” kisahnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Sunarti, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan, kebugaran, dan kebahagiaan.
Apalagi di usia kepala empat, ia merasa tubuh jauh lebih sehat, dibanding masa lalu yang sering dilanda nyeri sendi.
“Saya belajar dari teman-teman yang lebih tua tapi jauh lebih segar,” katanya.
Dengan semangat yang ditularkan oleh pimpinan dan budaya perusahaan yang suportif, Sunarti yakin, kunci produktivitas dan kebahagiaan bukan semata di kantor, tapi dimulai dari tubuh yang sehat.
“Kalau tubuh bugar, hati juga lebih semangat. Kita kerja pun jadi lebih ikhlas dan happy,” tutupnya.















