INKAM, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus mencari solusi jangka panjang, untuk mengatasi banjir yang kerap melanda wilayah rawan seperti Blok 10 Antang, BTN Kodam 3, hingga poros AP Pettarani.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan, pemkot kini mempertimbangkan pembangunan kolam retensi serta relokasi warga, sebagai alternatif solusi utama.
Dalam pertemuannya bersama Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Munafri menyebut hasil kajian bersama tim Universitas Hasanuddin dan BBWS, menunjukkan perlunya intervensi skala besar, termasuk kemungkinan membangun alur air baru.
Namun, opsi ini menghadapi tantangan berat, karena sejumlah rumah berdiri di atas jalur aliran.
“Diperkirakan biaya konstruksi alur air bisa mencapai Rp400 miliar, karena perlu pembebasan lahan,” ujar Munafri.
Sebagai alternatif, relokasi sekitar 400 rumah dengan nilai relokasi Rp1 miliar per unit, tengah dikaji sebagai solusi jangka panjang, yang memberikan dampak lingkungan lebih baik.
Munafri juga menekankan pentingnya legalitas dan perencanaan lima tahunan, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, pemkot tidak dapat berjalan sendiri dalam menangani banjir, yang bersinggungan langsung dengan wilayah sungai dan DAS, di bawah otoritas pusat.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan perlunya penataan kanal yang tidak sebatas pengerukan sedimen, tetapi juga penertiban bangunan liar.
“Kanal harusnya jadi jalur air, bukan malah ditutup atap dan dijadikan tempat pembuangan,” katanya.
Wali kota yang juga politisi Golkar itu berharap, agar perumusan solusi ini dapat dilakukan secara kolaboratif, termasuk dari sisi hukum dan regulasi yang mendukung pengelolaan kawasan aliran air secara terpadu.
Ia menilai, Makassar harus memiliki perencanaan jangka menengah yang realistis dan berkelanjutan.
“Kita ingin wilayah ini aman, nyaman, dan bebas banjir. Tapi harus dengan pendekatan yang terukur dan terintegrasi,” tegas Munafri.
Pemkot akan membawa semua hasil kajian ke forum lebih luas, untuk memastikan sinergi antarlembaga dapat terlaksana dengan optimal.















