INKAM, MAKASSAR – Kantor OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mencatat, sektor perbankan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) tetap menunjukkan kinerja tangguh, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh OECD yang direvisi, turun menjadi 3,1 persen pada 2025, menjadi salah satu indikator tantangan global yang dihadapi.
Meskipun demikian, sektor jasa keuangan di Sulampua tetap adaptif, dengan perbankan sebagai motor utama penggerak pembiayaan produktif, dan penjaga stabilitas ekonomi regional.
Kredit perbankan per Februari 2025 tumbuh sebesar 7,05 persen (yoy), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 3,86 persen.
Tingginya pertumbuhan kredit dibanding DPK menunjukkan, fungsi intermediasi yang berjalan efektif.
Loan to Deposit Ratio (LDR) Sulampua tercatat sebesar 130,54 persen, mengindikasikan pembiayaan yang disalurkan banyak berasal dari dana luar wilayah, mencerminkan kepercayaan pelaku industri terhadap potensi Sulampua.
Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di angka 2,45 persen, menandakan pengelolaan risiko kredit yang sehat di tengah agresivitas penyaluran pembiayaan.
Total kredit yang disalurkan mencapai Rp434,24 triliun, dengan porsi konsumtif Rp220,99 triliun dan produktif Rp213,24 triliun.
Portofolio DPK di wilayah ini masih didominasi tabungan sebesar Rp198,94 triliun, disusul deposito Rp67,02 triliun, dan giro Rp66,69 triliun.
Komposisi ini menunjukkan, preferensi masyarakat Sulampua terhadap instrumen simpanan likuid.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, menyatakan, daya tahan sektor perbankan menjadi bukti kontribusi signifikan sektor jasa keuangan, terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah Sulampua.















