INKAM, MAKASSAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan digital, untuk memperkuat inklusi keuangan di Indonesia.
Dalam kegiatan Digination: Digital Financial Literacy di Universitas Islam Makassar, OJK menyoroti pentingnya edukasi keuangan digital, agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan dengan bijak.
Kepala Eksekutif IAKD OJK, Hasan Fawzi menyampaikan, pemahaman tentang inovasi dan teknologi finansial, sangat penting dalam mencegah risiko penggunaan layanan keuangan.
“Dengan tingkat literasi yang tinggi, masyarakat bisa mengenali risiko dan mengambil keputusan yang tepat dalam menggunakan layanan keuangan digital,” jelas Hasan.
Berdasarkan data INDEF 2023, indeks literasi digital Indonesia baru mencapai 62 persen, yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata ASEAN sebesar 70 persen.
Sementara itu, survei SNLIK OJK 2024 menunjukkan, indeks literasi keuangan nasional berada di angka 65 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 75 persen.
Untuk meningkatkan literasi keuangan digital, OJK telah menyusun modul edukasi dan mengembangkan Fintech Innovation Center OJK, guna mendorong inovasi di industri keuangan.
Selain itu, OJK juga memfasilitasi konsultasi bagi pelaku industri, terkait pengembangan sektor keuangan berbasis teknologi.
Rektor Universitas Islam Makassar, Muammar Bakry, mengapresiasi inisiatif OJK dalam memberikan edukasi finansial kepada mahasiswa.
Ia berharap, mahasiswa dapat menjadi pelaku utama dalam pengembangan ekonomi digital dan inklusi keuangan.
“Kami ingin mahasiswa berperan aktif dan menjadikan teknologi finansial, sebagai peluang untuk berinvestasi dan berwirausaha,” ungkapnya.
Kegiatan Digination ini merupakan bagian dari upaya OJK, untuk memperkenalkan inovasi finansial kepada masyarakat di berbagai daerah.
Dengan edukasi yang lebih intensif, OJK berharap, masyarakat semakin siap menghadapi tantangan di era digital, dan meningkatkan keterlibatan dalam ekosistem keuangan modern.















