INKAM, MAKASSAR – Sulawesi Selatan terus menunjukkan perkembangan yang luar biasa di sektor keuangan, khususnya dalam pasar modal dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).
Hingga Juni 2024, jumlah investor pasar modal di wilayah ini mencapai 367.613 Single Investor Identification (SID), yang mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 35,82 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Di antara jenis investasi yang tersedia, reksadana menempati porsi terbesar dengan 352.004 SID, menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan sebesar 37,32 persen (yoy).
Selain itu, nilai transaksi saham di Sulawesi Selatan hingga Juni 2024 telah mencapai Rp9,33 triliun, menggarisbawahi minat dan partisipasi yang kuat dari masyarakat terhadap investasi di pasar modal.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Darwisman mengatakan, Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) di Sulawesi Selatan juga mengalami pertumbuhan yang solid, pada berbagai sektor hingga Mei 2024.
Perusahaan pembiayaan berhasil meningkatkan total piutang pembiayaannya sebesar 13,13 persen, mencapai Rp18,39 triliun.
“Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan masyarakat, terhadap layanan pembiayaan di wilayah tersebut,” ungkapnya, saat digelar Journalist Update, Kamis (15/8/2024)
Selain itu, sektor pergadaian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pembiayaan pinjaman, yang tumbuh sebesar 31,32 persen hingga mencapai Rp6,75 triliun.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) juga mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 3,06 persen, dengan total pembiayaan mencapai Rp381 miliar.
Tidak kalah penting, industri fintech peer-to-peer lending (Fintech P2PL) di Sulawesi Selatan, mencatatkan pertumbuhan luar biasa, dengan peningkatan jumlah outstanding pinjaman sebesar 44,29 persen hingga mencapai Rp1,36 triliun.
Tingkat wanprestasi yang terjaga pada angka 1,73 persen, menunjukkan manajemen risiko yang baik di industri ini.
Sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah melaksanakan 512 kegiatan edukasi, sejak Januari hingga Juli 2024.
Kegiatan ini berhasil menjangkau 73.262 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pelaku UMKM, ibu rumah tangga, ASN, komunitas, difabel, mahasiswa, dan pelajar.
“Dalam hal layanan konsumen, OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mencatat 281 layanan yang terdiri dari 76 pengaduan, 103 pemberian informasi, dan 102 penerimaan informasi,” ungkap Darwisman.
Mayoritas layanan ini terkait dengan sektor perbankan (177 layanan), perusahaan pembiayaan (78 layanan), serta sektor lainnya seperti asuransi, fintech, dan pasar modal.
Selain itu, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) telah melayani 5.578 permintaan layanan hingga 31 Juli 2024, menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi keuangan yang akurat dan terpercaya.















