Info Kejadian Makassar

Bersatu Kita Teguh: Moral Subyektif (24)

INKAM –  Ada satu titik penting tentang kepercayaan. Kepercayaan itu sama dengan modal sosial lainnya, bisa mengental, tapi bisa juga mengalami krisis.

Kepercayaan juga ada masa berlakunya, istilahnya “expired”. Jadi kalau ada yang mengatakan, “sekali saya mempercayaimu, maka akan percaya selamanya,” itu namanya gombal.

Modal kepercayaan itu akan  mengalami “kristalisasi” seiring dengan perjalanan waktu. Seseorang yang semakin mempercayai yang lain, karena pada pertautannya ada proses pengentalan.

Orang yang dipercayai, sudah seringkali diuji sampai pada hal yang paling mendasar. Dia bukan hanya lulus pada pada aspek yang remeh tetapi sampai pada hal yang besar.

Persis seperti nasehat orang bijak, “berikan kepercayaan kepada seseorang, sampai pada titik dia masih terpercaya, saat kebanyakan orang tidak lagi bisa dipercaya pada titik itu.”

Namun, saya menggelari kepercayaan itu sebagai “moral subyektif.” Karena kepercayaan itu tidak berlaku obyektif pada semua lini.

Anda boleh tidak setuju, tapi izinkan saya menjelaskannya. Saya menyebutnya sebagai moral subyektif, karena ada subyektifitas cara pandang dari yang mempercayai, dan subyektifitas perilaku dari orang yang dipercayai.

Dari moral subyektif inilah, orang sering  berbeda dalam menentukan, apakah perilaku seseorang itu terpercaya atau tidak.

Kepercayaan sebagai moral subyektif, juga menyebabkan mengapa di satu sisi, ada menganggap seseorang itu disebut pahlawan, tapi orang lain menyebutnya pengkhianat.

Baca Juga  Dirjen Pendis Kemenag Siapkan Skema Program, Dukung UIN Makassar Raih Rekognisi Internasional

Kepercayaan sebagai moral subyektif, juga bisa menjelaskan mengapa seorang laki-laki dipercaya pada aspek materi.

Misalnya integritas terhadap masalah keuangan (harta), tapi dia bermasalah pada moral terhadap lawan jenis (wanita),  demikian pula sebaliknya.

Bisa saja orang itu layak dipercaya untuk pengelolaan materi, tapi sangat lemah tingkat kepercayaanya pada manajemen waktu.

Contoh lain, seorang ayah yang tersangkut dengan kasus, rela mengorbankan kepercayaan publik pada dirinya, bisa saja penyebabnya karena ingin menjadi “pahlawan” bagi isteri dan anak-anaknya.

Sampai di sini, saya tidak melakukan pembenaran terhadap sebuah penyimpangan, tapi sekadar menguji mengapa perilaku sosial orang sering tidak bergaris lurus secara moral.

Tentu ada orang yang bisa dipercaya pada ragam urusan, dan orang itu bukan cerita fiksi, Tetapi bisa saja jumlahnya tidak begitu banyak.

Karena sebagai nilai moral, terkadang kepercayaan diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan.

Itulah, untuk menjadikan kepercayaan sebagai “moral obyektif”, kita  sering mengalami kesulitan untuk menerapkannya dalam kehidupan sosial.

Jadi seseorang yang ingin menaruh kepercayaan kepada orang lain, pertanyaannya pada aspek mana dia ingin mempercayainya.

Itulah beratnya menjadi orang yang terpercaya. Beratnya di sini, sambil saya menunjuk posisi hati di tubuh saya.

Orang yang memilki tingkat kepercayaan yang tinggi, terletak pada kemampuannya memenangkan perang melawan dirinya (hatinya).

Istilah seorang tokoh, beratnya untuk menjadi orang terpercaya, karena mensyaratkan kemampuan menekan niat dan  kesempatan sekaligus. Bisaki’?

Baca Juga  St Magfirah Nasir Jadi Doktor Termuda Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Oleh:
Hamdan Juhannis
Rektor UIN Alauddin

WhatsApp Image 2026-04-09 at 09.33.21
Market Sessions

Berita Terbaru

CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah
CAPCUSJP CAPCUSJP CLBKTOTO