INKAM – Prabowo Subianto Dan Gibran Rakabuming resmi berpasangan di Pilpres 2024. Hal ini mendapatkan tanggapan dari CEO PT Duta Politima Indonesia (PT DPI), Dedi Alamsyah Mannaroi.
Dedi berpendapat, Grand Desaign Sang Emak (Megawati Soekarnoputri) akhirnya terwujud, dimana menyatukan “titisan darah merah” Banteng ke Garuda.
“Yah saya paham betul strategi politik Mba’ Mega, dimana kadang suka meminta anak buahnya untuk melawan dirinya,” ujar Dedi.
Dalam politik itu sah saja, agar membuat orang yang ngga’ suka jadi suka. Karena dalam politik semua serba kemungkinan. Kita atau publik ngga’ tau komunikasi antar Mega dan Jokowi selama ini. Bisa saja mereka pura – pura musuhan tapi dibelakang baikan.
Ada deal politik untuk kepentingan besar dari PDIP, yaitu melanggengkan kekuasaan dengan tidak melepas kadernya jadi Presiden, dan yang mampu laksanakan ini yah Jokowi, dengan mendorong anaknya sebagai peran membantu dirinya, untuk meloloskan kepentingan Sang Emak.

Jadi strategi politik pura – pura lagi dimainkan, “Pura – Pura Pisah, Berantem, Beda Pendapat Antara Megawati dan Jokowi Nanti Ketemunya di Ujung Pengkolan”.
Dan saya menduga “Politik Kepura – Puraan” Yang diperankan oleh Mega dan Jokowi diketahui banyak pihak apalagi para politisi lain. Saya jadi bertanya dalam hati apakah Prabowo bagian dari strategi “Pura – Pura” Itu? Kalau Iyah tega benar yah? Padahal banyak rakyat yang bersandar di pundaknya agar kesejahteraan bisa terwujud saat Prabowo menang.
Tapi kalau Prabowo tidak tahu kok bisa sampai ngga’ mampu membaca strategi itu ? Kalau Prabowo tidak tahu strategi itu, maka yah terlalu dini saya katakan “Sudah jelas arah kemenangan kemana”.
Suka tidak suka, mau Ganjar atau Prabowo, maka yang bahagia ialah Megawati dan Parpolnya. Mengganjal Anies untuk maju nampaknya tak mampu dilakukan, tapi apakah Anies mampu lawan kekuatan PDIP dan Megawati ?
Kita tunggu, yang pasti “Megawati dan Jokowi pura – pura marahan dan nanti juga ketemu diujung pengkolan”.
Dan rakyat harus sadar ini lah politik, yang saya baca ngga’ ada gesekan fisik antar pendukung, karena 2 orang itu bagian dari pemegang kendali massa dan kepentingan.















