MAKASSAR, INKAM – Komitmen jangka panjang rehabilitasi ekosistem pesisir berbasis sains terus diperkuat, melalui kolaborasi internasional antara Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Shanghai Ocean University, dan Guangdong Ocean University.
Salah satu wujud konkret kerja sama tersebut, adalah penempatan artificial reef (terumbu buatan) di Pulau Bonetambung, Makassar.
Dekan FIKP Unhas, Mahatma Lanuru, menjelaskan, pemasangan artificial reef (AR) menjadi langkah strategis dalam rehabilitasi terumbu karang, yang terintegrasi dengan pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Program ini tidak hanya berorientasi ekologis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
“Hasil pemantauan awal menunjukkan dampak yang menjanjikan, baik secara ekologis maupun sosial. Ke depan, kegiatan ini akan dikembangkan melalui monitoring berkala, stock enhancement, dan penguatan konsep marine ranching,” ujarnya di Kampus Unhas Tamalanrea, Selasa (24/2/2026).
Penempatan AR telah dilakukan sejak Oktober 2024. Tim peneliti yang salah satunya diwakili Dr. Syafyudin, ST, M.Si, menjelaskan, struktur yang digunakan meliputi beton berbentuk piramida, beton berbentuk kotak, hingga susunan batok kelapa.
Variasi desain ini bertujuan meningkatkan kompleksitas habitat, menyediakan ruang berlindung dan area agregasi ikan, serta menjadi substrat awal bagi larva karang dan organisme bentik.
Dari sisi ekonomi, dampaknya mulai dirasakan nelayan setempat. Sebelum pemasangan AR, hasil tangkapan cumi-cumi berkisar 1–2 kilogram per trip melaut. Kini meningkat menjadi 3–4 kilogram.
Peningkatan ini mengindikasikan artificial reef mulai berfungsi sebagai habitat baru, yang mendukung produktivitas perairan.
Secara ekologis, monitoring lapangan menunjukkan kemunculan juvenil ikan dan juvenil karang, yang mulai menempel pada struktur beton berpori tinggi.
Bahkan kima (Tridacnidae) yang ditempatkan sebagai bagian dari pengayaan biota, memperlihatkan pertumbuhan signifikan, menandakan kualitas lingkungan perairan yang mendukung.
Kolaborasi internasional ini juga, mendapat pengakuan melalui capaian Bronze Winner pada Anugerah Kerja Sama Diktisaintek 2025.
Penghargaan tersebut menjadi bukti praktik, baik kerja sama perguruan tinggi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Memasuki 2026, fokus kegiatan akan diarahkan pada pengayaan stok biota perikanan bernilai ekologis dan ekonomis, serta inisiasi pembangunan platform marine ranching berbasis ekosistem.
Kajian mendalam aspek oseanografi, ekologi, dan sosial akan menjadi dasar implementasi, disertai monitoring dan evaluasi berkala, untuk memastikan efektivitas rehabilitasi dan keberlanjutan sumber daya laut di Pulau Bonetambung.












