MAKASSAR, INKAM — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, melakukan kunjungan kerja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, Jumat (6/2/2026), untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Kunjungan ini dilakukan menyusul tingginya beban sampah harian di TPA Antang, yang mencapai 800 hingga 1.000 ton per hari.
Kondisi tersebut dinilai mendesak percepatan transisi, dari sistem open dumping menuju tata kelola modern agar daya dukung lingkungan tidak cepat jenuh.
Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan, pembenahan sektor hilir persampahan, berkaitan langsung dengan isu food loss and waste.
Pemerintah mendorong pengurangan sampah sejak dari rumah tangga melalui pengolahan limbah organik, termasuk pemanfaatan eco-enzyme, komposter, hingga budidaya maggot sebagai solusi efektif menekan volume sampah.
Menurutnya, pendekatan ini bukan sekadar pengurangan limbah, tetapi bagian dari ekonomi sirkular. Budidaya maggot, misalnya, mampu menghasilkan pakan alternatif bernutrisi tinggi, bagi peternakan sekaligus pupuk organik untuk pertanian dan perikanan.
“Ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi bagaimana sampah bisa memberi nilai tambah ekonomi, dan memperkuat kemandirian pangan nasional,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Pangan mengapresiasi langkah progresif Pemerintah Kota Makassar, yang telah melakukan sejumlah pembenahan, mulai dari pembebasan lahan 2,8 hektare untuk pengembangan teknologi pengolahan, pembukaan jalur akses baru guna mengurai antrean armada, hingga penambahan 50 motor roda tiga dan 9 mobil sampah untuk memperkuat logistik kebersihan.
Tak berhenti pada sistem konvensional, Makassar juga didorong mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis Waste-to-Energy.
Proyek ini disebut menjadi prioritas nasional, sebagai solusi jangka panjang pengurangan timbunan sampah, sekaligus sumber energi alternatif.
Pemkot Makassar pun diminta segera menyiapkan lahan seluas 6,2 hektare di sekitar TPA Antang, untuk mendukung pembangunan PSEL tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan kapasitas TPA, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah perkotaan.
Dengan transformasi ini, pemerintah berharap pengelolaan sampah di Makassar tidak lagi sekadar pembuangan akhir, melainkan menjadi sistem terpadu yang berdampak pada kebersihan kota, energi terbarukan, dan ketahanan pangan.















