MAKASSAR, INKAM – Lima inovasi unggulan hasil riset konsorsium Politeknik se-Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara (Sultanbatara), dipamerkan dalam ajang Sinergi Membangun Ekosistem Strategis Terpadu dan Adaptip (SEMESTA) Panen Raya Berdikari 2025, yang digelar di Lobby Tokyo Phinisi Point Mall (PIPO) Makassar, Sabtu (8/11/2025).
Politeknik Bosowa (Poltekbos) menjadi tuan rumah kegiatan, yang dihadiri berbagai tokoh penting, di antaranya Founder Bosowa Corporindo HM Aksa Mahmud, Direktur Pemanfaatan dan Diseminasi Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Prof Yudi Darma, Plt Kepala Dinas TPHBun Sulsel Bustanul Arifin, Staf Ahli Gubernur Sultra La Ode Fasikin, serta Kepala LLDIKTI Wilayah IX Andi Lukman.
Lima karya unggulan yang dipamerkan meliputi, solar cell freezer box terapung (Sulbar), biochar dan briket arang ramah lingkungan (Sulsel), ecofeed amino (Sultra), ZAPA emas pewarna alam batik (Sulsel), serta penebar pakan otomatis berbasis IoT dan tenaga surya (Sulsel).
Ketua Panen Raya Berdikari, Isminarti, menjelaskan, program SEMESTA merupakan agenda strategis dari Kemendiktisaintek, di bawah Direktorat Pemanfaatan dan Diseminasi Sains dan Teknologi.
Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari pengembangan ekosistem kemitraan, yang telah dimulai sejak 2023.
“Panen raya ini menjadi wahana menampilkan hasil riset keunggulan, memperkuat jejaring antara akademisi, industri, pemerintah daerah, dan kawasan Sultanbatara,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, pelaku industri, perguruan tinggi akademik, hingga perguruan tinggi vokasi.
Diharapkan, kegiatan ini mampu melahirkan policy paper yang menjadi acuan pemerintah daerah, dalam kebijakan pembangunan berbasis riset dan teknologi.
Dalam sambutannya, Founder Bosowa Corporindo HM Aksa Mahmud, menegaskan pentingnya Politeknik dalam mencetak lulusan yang siap kerja.
Ia mencontohkan Politeknik Bosowa, yang telah sukses menghasilkan alumni berkompetensi tinggi, dan langsung terserap di dunia industri.
“Perusahaan-perusahaan Bosowa sekarang justru kekurangan tenaga kerja, karena alumni Politeknik Bosowa sudah terserap semua. Mari kita berkolaborasi mencetak anak-anak yang siap kerja,” ujar Aksa.
Ia menambahkan, keberhasilan Politeknik Bosowa menjadi contoh nyata, bagaimana pendidikan vokasi dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan kemandirian daerah.
Aksa Mahmud juga menyoroti pentingnya sektor pangan, sebagai tantangan masa depan. Ia menilai, dalam beberapa dekade ke depan, persaingan global akan bergeser dari teknologi ke pangan.
“Revolusi dunia berikutnya adalah masalah pangan. Dunia akan menghadapi problem besar di sektor ini,” tegasnya.
Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar di sektor pangan, khususnya produksi padi.
Saat ini, produksi padi di Sulsel masih berkisar 5-6 ton per hektare. “Kita harus bisa naikkan ke 8-10 ton. Di China sudah 18 ton per hektare,” jelasnya.
Aksa mengungkapkan, Bosowa telah melakukan uji coba peningkatan produksi padi di Kabupaten Wajo, yang kini sudah mencapai 7 ton per hektare.
Ia optimistis, jika hasilnya terus ditingkatkan hingga 10 ton per hektare, Sulsel bisa surplus beras hingga 7 juta ton dan bahkan berpeluang ekspor.
“Kita sudah siapkan bibit unggul untuk naikkan produktivitas jadi 8-10 ton per hektare. Saya harap para akademisi dan guru besar pertanian, bisa membuat terobosan nyata di sektor pangan,” tutupnya.
Sementara, Direktur Politeknik Bosowa, Ahmad Yauri Yunus, bersama para pimpinan konsorsium Politeknik Sultanbatara, menegaskan, kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia pendidikan dan industri.
“SEMESTA Panen Raya Berdikari adalah ruang kolaboratif, untuk menghubungkan riset kampus dengan kebutuhan industri dan daerah. Tujuannya agar hasil inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tapi bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.















