Info Kejadian Makassar

BI Sulsel Waspadai Dampak Ketidakpastian Global terhadap Ekonomi Daerah

YOGYAKARTA, INKAM – Di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) juga menyoroti bayang-bayang ketidakpastian global, yang dapat memengaruhi prospek perekonomian lokal.

Dalam paparannya pada Pelatihan Wartawan dan Media Gathering di Hotel Novotel Suites Yogyakarta, Senin (23/6/2025), Analis Senior BI Sulsel, Dhony Iwan Kristanto, secara khusus membahas risiko dan tantangan dari dinamika ekonomi internasional.

Dhony mengawali diskusinya dengan gambaran makroekonomi global, yang menunjukkan peningkatan ketidakpastian.

Ia menjelaskan, pengumuman tarif resiprokal oleh Amerika Serikat telah memicu fragmentasi ekonomi global, yang berakibat pada penurunan volume perdagangan dunia.

Hal ini secara langsung berdampak pada proyeksi pertumbuhan PDB dunia tahun 2025, yang diperkirakan akan menurun, terutama di negara-negara besar seperti AS dan Tiongkok.

Selain itu, pergerakan aliran modal global juga menjadi perhatian serius.

Dhony mengungkapkan, adanya tren pergeseran aliran modal dari Asia ke negara-negara di Eropa dan Jepang, serta menuju safe haven assets seperti Emas.

Fenomena ini, kata Dhony, secara langsung memberikan tekanan, terhadap potensi pelemahan nilai tukar mata uang di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meskipun demikian, Sulawesi Selatan menunjukkan resiliensi yang patut diapresiasi di tengah gejolak global.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi di Triwulan I 2025, berada di wilayah Sulawesi, dengan pertumbuhan mencapai 6,40% (yoy).

Hal ini menjadikan Sulawesi Selatan sebagai kontributor utama yang signifikan, dalam mendorong peningkatan pertumbuhan PDRB di seluruh wilayah Sulawesi.

Baca Juga  Titis Nurdiana: Jurnalis Selayaknya Sajikan Berita Bermuatan Literasi

Namun, Dhony menegaskan, dampak kebijakan tarif dari negara adidaya tetap menjadi perhitungan serius.

Ia merinci bagaimana “first round effect” dari penerapan tarif dagang AS, diperkirakan menyebabkan penurunan ekspor luar negeri Sulsel sebesar -1,07%, yang setara dengan kerugian nilai sebesar Rp535,24 miliar.

Penurunan ekspor ini kemudian, berimplikasi pada penurunan PDRB Sulsel sebesar 0,14%.

Tidak hanya sampai di situ, terdapat pula “second round effect” yang juga perlu diantisipasi.

Dampak ini muncul dari penurunan ekspor ke Tiongkok, khususnya untuk komoditas kunci seperti besi stainless (Ferro Alloy Nickel), rumput laut, dan karagenan.

Dengan asumsi tidak ada pengalihan pasar, penurunan ekspor pada putaran kedua ini diperkirakan mencapai -0,03% atau Rp16,49 miliar, yang berujung pada penurunan PDRB sebesar 0,004%.

Meskipun angka-angka dampak ini terlihat kecil, namun kumulatifnya menunjukkan, ekonomi Sulsel tidak sepenuhnya imun terhadap goncangan eksternal.

Bank Indonesia terus memonitor pergerakan ini, untuk merumuskan kebijakan yang tepat guna mitigasi risiko.

Sesi ini menjadi sangat penting bagi 50 wartawan yang hadir, karena memberikan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas perekonomian.

Dengan informasi yang akurat dari BI, para jurnalis diharapkan dapat menyajikan berita yang lebih kontekstual dan mendidik publik, tentang tantangan serta strategi yang dihadapi, dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah.

Melalui pemaparan ini, BI Sulsel menegaskan posisi proaktifnya dalam menghadapi ketidakpastian global, seraya terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas di Sulawesi Selatan, demi masa depan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya saing.

Baca Juga  Astra Motor Sulsel Siap Berkolaborasi untuk Edukasi Safety Riding
WhatsApp Image 2026-05-11 at 15.37.05
Market Sessions

Berita Terbaru

CLBKTOTO

sv388 wala meron

bagaimana manajemen saldo menyelamatkan budibalik kemenangan beruntun tanpa fiturdibalik debu gurun pelajaran berhargahukum rimba wild bounty showdownmembedah perbedaan strategi antara versimenembus tembok scatter hitam faktamenjadi legenda padang gurun kisah
CAPCUSJP CAPCUSJP CLBKTOTO