YOGYAKARTA, INKAM — Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan peringatan, terhadap potensi dampak ekonomi, akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di tingkat global.
Situasi konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah dan Eropa, dinilai bisa mengganggu stabilitas ekonomi nasional, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan.
Hal tersebut disampaikan, dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Wartawan dan Media Gathering, yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia Provinsi Sulsel.
Kegiatan ini diikuti oleh 50 wartawan dari berbagai media di Sulawesi Selatan, dan digelar di Hotel Novotel Suites Yogyakarta, Senin (23/6/2025).
Deputi Kepala BI Provinsi Sulsel, Wahyu Purnama, mengatakan, dua titik konflik utama—perang Rusia–Ukraina yang belum mereda, serta ketegangan antara Israel dan Iran—bukan hanya menjadi isu keamanan, tetapi turut menyeret konsekuensi ekonomi jangka pendek hingga panjang.
Dalam pandangannya, dampak yang paling terasa adalah lonjakan harga komoditas dunia.
“Perang Ukraina–Rusia saja telah memberi tekanan besar pada inflasi global. Kini dengan potensi konflik Israel–Iran yang bisa meluas, kita menghadapi risiko gejolak harga minyak dan emas yang signifikan,” ujarnya dalam sesi Media Gathering tersebut.
Menurut Wahyu, ketegangan antarnegara besar berpotensi mempercepat disrupsi terhadap rantai pasok global, memperlemah pertumbuhan ekonomi dunia, dan menimbulkan tekanan terhadap sektor energi.
Hal ini dapat berdampak langsung pada inflasi nasional, termasuk di Sulawesi Selatan, terutama dari sisi harga bahan bakar dan bahan pokok.
Tak hanya itu, Wahyu menegaskan, jika konflik global meningkat ke level senjata pemusnah massal seperti nuklir, skenario terburuk pun bisa terjadi.
“Amerika memiliki lebih dari 5.200 senjata nuklir, Rusia lebih dari 5.800. Satu bom nuklir saja bisa menghancurkan perekonomian satu negara. Kita bicara bukan lagi ancaman, tapi kiamat ekonomi,” katanya.
Indonesia sebagai bagian dari sistem ekonomi global, tidak akan kebal dari efek domino tersebut.
Ketergantungan terhadap impor energi, pangan, dan komoditas strategis, membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap fluktuasi global, yang bersumber dari konflik geopolitik.
Sebagai langkah antisipatif, Bank Indonesia menegaskan komitmennya, untuk terus menjaga kestabilan makroekonomi melalui bauran kebijakan moneter, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Wahyu juga mengimbau masyarakat dan pelaku ekonomi, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga efisiensi, dalam menghadapi ketidakpastian global yang semakin kompleks.












