DEPOK, INKAM – Di tengah kesibukannya sebagai legenda musik dangdut, Rhoma Irama menyimpan sebuah cerita.
Bukan soal album baru, bukan pula rencana konser akbar, tapi tentang sesuatu yang tak banyak orang berani pikirkan… kematian.
Dalam sebuah obrolan eksklusif bersama MAIA ALELDUL TV, pria yang akrab dijuluki Raja Dangdut itu mengungkapkan hal tak biasa: ia telah menyiapkan sendiri makamnya.
Lokasinya bukan di pemakaman umum atau tanah keluarga, melainkan di tempat paling dekat dengan hatinya—kompleks Studio Soneta Group, Depok.
“Supaya yang mau ziarah tidak repot,” ujarnya dengan nada tenang. Sebuah kalimat sederhana, namun penuh makna.
Dalam ruang 5.000 meter persegi, yang telah menjadi pusat kreativitas Soneta sejak 1980-an itu, Rhoma Irama ingin tetap ‘tinggal’ meski nanti sudah tak lagi bernyawa.
Tapi tak hanya makam yang ia siapkan. Studio legendaris tersebut juga akan bertransformasi menjadi museum pribadi.
Di dalamnya akan terpajang deretan lagu yang telah mengubah wajah musik dangdut Indonesia. Penghargaan, alat musik, hingga jejak-jejak sejarah perjuangan Soneta—semua akan ditata, agar generasi mendatang bisa mengenang, belajar, dan menghormati warisan budaya yang telah ditinggalkan Rhoma.
“Saya hanya ingin memberi jejak. Kalau nanti saya sudah tiada, saya ingin orang tahu bahwa musik ini pernah menyuarakan nilai-nilai,” ujar Rhoma dalam wawancara itu.
Di balik sorotan panggung, Rhoma ternyata tak hanya memikirkan tentang popularitas atau kekuasaan di atas panggung. Ia sedang membangun rumah abadi, bagi karya dan kenangannya.
Dan mungkin, inilah bentuk lain dari cinta seorang seniman kepada hidup—dan kepada kematian.
Ia tidak menunggu dilupakan. Ia menyiapkan tempat agar ia tetap diingat, bukan karena siapa dia, tapi karena apa yang telah ia tinggalkan.












