DOMPU, INKAM — Di sudut sunyi Desa Marada, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, tangisan seorang bayi menjadi saksi bisu, atas tragedi kemanusiaan yang memilukan.
Ia baru berumur 10 hari, bahkan belum sempat diberi nama. Namun dunia sudah menimpanya dengan duka: sang ibu tewas di tangan ayahnya sendiri.
Sri Wahyuni (28), ibu dari dua anak, ditemukan tewas bersimbah darah di lantai rumahnya, Sabtu (7/6/2025).
Di samping tubuhnya yang kaku, tergeletak seorang bayi mungil yang masih merah.
Pelaku pembunuhan tak lain adalah suaminya sendiri, Syamsudin (29), yang tega menghabisi nyawa istrinya dengan sebilah parang.
Bayi itu kini piatu, dan ayah kandungnya pun akan menjalani hukuman atas perbuatan keji yang telah ia lakukan.
Kisah memilukan ini menyebar cepat, menggugah simpati banyak orang. Salah satunya datang dari Mawar Yulia, kerabat korban, yang mengaku masih terpukul atas tragedi itu.
“Namanya pun belum sempat diberi. Waktu saya tanya ke neneknya, dia cuma geleng-geleng. Bingung. Saya bilang, kalau mau, biar saya yang carikan nama,” ucap Mawar dengan suara berat, dikutip dari TribunLombok.com, Senin (9/6/2025).
Mawar kini menjadi salah satu orang yang berjuang, untuk masa depan bayi tersebut.
Ia membuka donasi, dan berniat mengadopsi si kecil, jika keluarga besar mengizinkan. Sementara ini, bayi tersebut dirawat oleh kerabat dekat dari pihak ibu.
“Saya sudah bilang ke keluarga, kalau memang mau anak ini hidup dan besar, biar saya saja yang urus. Tapi saya juga sadar, saya tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Saya juga punya tanggungan,” katanya dengan jujur.
Donasi yang terkumpul hingga kini telah mencapai Rp1,4 juta dari 20 donatur.
Dana tersebut akan digunakan untuk membeli susu, popok, dan kebutuhan dasar sang bayi dalam sebulan ke depan.
“Saya hanya ingin memastikan anak-anak ini tetap punya masa depan. Kalau pun anak ini mau diadopsi, saya tekankan ke keluarga — jangan pernah dikasih ke orang lain, kecuali ke saya,” ujar Mawar, dengan nada tegas namun penuh kasih.












