MAKASSAR, INKAM — Hidup terkadang menempatkan kita, di tempat yang tak pernah kita bayangkan. Seperti Benedicta Caroline Arunde, gadis berdarah Manado kelahiran Jambi ini.
Lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang, ia membayangkan karier pertamanya akan dimulai di kota besar di Jawa, atau paling tidak kembali ke tanah Sumatera, yang lebih dekat dengan kampung halaman.
Tapi takdir membawanya ke seberang: Makassar, kota angin laut dan bumbu rempah.
Sebuah tawaran pekerjaan dari Jakarta, mengantarkannya ke posisi Corporate Communication Astra Motor Sulawesi Selatan, dan Dicta — begitu ia biasa disapa — menerima tantangan itu tanpa banyak berpikir.
“Awalnya kaget. Aku pikir kerja pertamaku ya pasti di Jawa atau Sumatera. Tapi justru Makassar yang datang duluan. Aku pikir, mumpung masih muda, kenapa nggak? Ini kan kesempatan,” ujarnya sambil tersenyum.
Hari-hari pertamanya di Makassar penuh warna. Mulai dari logat khas lokal, hingga kebiasaan unik warga setempat.
Salah satu yang masih membekas dalam ingatannya, yakni kejadian di ojek online.
“Driver-nya nanya, ‘Kita’ kost di mana?’ Aku sempat mikir, kok ngajak bareng ngekos? Ternyata kita di sini itu artinya kamu,” katanya, mengenang kejadian tersebut.
Tapi seiring waktu, ia mulai terbiasa. Bahkan mulai menikmati — mulai dari logat, makanan, sampai suasana kota.
Mengenai kuliner, Coto Makassar sudah pernah ia cicipi sejak kuliah di Jawa. Tapi di tanah asalnya, rasa itu terasa lebih ‘hidup’.
“Pallubasa Serigala itu favoritku. Gurih, kaya rasa, dan unik, karena ada kelapa gorengnya. Langsung cocok di lidah,” katanya bersemangat.
Selain itu, ia juga sudah mencoba Songkolo dan Mie Tiktik, dua sajian khas yang baru ia kenal setelah tinggal di Makassar.
Ada satu hal kecil yang sempat membuatnya heran, tapi kini justru ia rindukan.
“Hampir semua makanan di sini pakai jeruk nipis. Coto, nasi goreng, bahkan mie. Aneh di awal, tapi lama-lama jadi kebiasaan,” ujarnya.
Kini, setelah dua bulan tinggal dan bekerja di Makassar, Dicta mulai merasa ‘pulang’ meski jauh dari rumah.
Teman-teman kantor jadi keluarga baru, dan pekerjaan yang sesuai dengan passion jadi motivasi tiap pagi.
“Dulu sempat disampaikan, orang Makassar kalau ngomong itu terdengar keras, kayak membentak. Tapi aku sih sudah biasa. Di Sumatera juga begitu,” katanya santai.
“Justru pas kuliah di Jawa aku sempat bingung, kok semua orang lembut-lembut banget ngomongnya,” lanjut Dicta.
Baginya, pengalaman ini bukan hanya tentang pekerjaan pertama. Tapi juga tentang keberanian melangkah ke luar zona nyaman, mengenal budaya baru, dan membuka diri pada pengalaman yang tidak pernah ia rencanakan.
“Kadang yang nggak kita duga justru yang terbaik. Makassar sekarang jadi bagian dari cerita hidupku, dan aku senang bisa tumbuh di sini,” tutupnya, penuh percaya diri.












