MAKASSAR, INKAM – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Ambo Asse, menyampaikan pesan tegas dan menyentuh, saat menghadiri pelantikan pejabat baru Unismuh Makassar.
Ia mengingatkan, jabatan di lingkungan kampus Muhammadiyah bukanlah posisi administratif semata, melainkan bagian dari perjuangan dakwah dan jihad intelektual.
“Jabatan ini amanah dari Persyarikatan Muhammadiyah. Jangan sampai menjabat tapi belum memahami Muqaddimah Anggaran Dasar, atau belum pernah menyelami Tafsir 12 Langkah,” ujarnya.
Ia menegaskan, kepemimpinan di Unismuh harus sejalan dengan semangat ideologis Muhammadiyah, yang berorientasi pada Islam Berkemajuan.
Prof Ambo juga mengingatkan, pentingnya para pejabat kampus aktif di cabang dan ranting Muhammadiyah.
Menurutnya, keberadaan para pemimpin perguruan tinggi Muhammadiyah di akar rumput organisasi, akan memperkuat kohesi gerakan dan nilai dakwah yang dibawa.
Ia juga menyoroti, fenomena penyelesaian masalah secara reaktif di media sosial dan grup pesan singkat.
“Jangan menyelesaikan masalah lembaga di WhatsApp. Kita ini lembaga dakwah, bukan organisasi emosional,” tegasnya dalam nada menasihati, namun tetap santun.
Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh, Prof Gagaring Pagalung, turut menyampaikan pentingnya budaya kolegial di lingkungan kampus.
Ia menjelaskan lima prinsip perilaku dalam organisasi, termasuk keselarasan antara tujuan individu dan institusi, serta adaptasi terhadap dinamika eksternal.
Menurut Prof Gagaring, budaya kolegial harus terus dijaga, agar para pimpinan tidak bekerja secara terpisah dan ego sektoral.
Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan berbasis nilai-nilai Islam, yang responsif terhadap era digital.
“Kalau tidak siap, kita akan tertinggal di tengah perubahan yang sangat cepat,” ujarnya.
Pelantikan ini menjadi titik awal estafet kepemimpinan di Unismuh Makassar, yang tidak hanya menargetkan capaian akademik, tetapi juga penguatan identitas ideologis dan spiritual.
“Mari jadikan jabatan ini sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar status atau kekuasaan,” pungkas Prof Ambo.















