INKAM, MAKASSAR – Kuasa hukum Hj. Mirahayati, Ida Hamida, SH, menegaskan bahwa kliennya tidak mendapatkan perlakuan khusus, dalam proses hukum yang sedang dijalani.
Saat ini, Hj. Mirahayati tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar, karena kondisi kehamilannya yang memasuki trimester ketiga.
“Banyak sekali berkembang berita di media sosial, terutama di TikTok, yang mengatakan ada perlakuan khusus bagi Hj. Mirahayati. Kami tegaskan itu tidak benar,” kata Ida Hamida dalam keterangannya, Jumat (14/2/2025).
Ia menjelaskan, kondisi kesehatan kliennya menjadi alasan utama dirujuk ke rumah sakit.
“Tensi darahnya tidak stabil, pernah mencapai 200. Ini yang membuat dokter di rumah tahanan merujuk beliau ke RS Wahidin Sudirohusodo. Apalagi, ia sempat mengalami diare yang bisa berdampak pada janinnya,” ujarnya.

Ida juga menanggapi anggapan, bahwa banyak tersangka hamil lainnya tetap menjalani tahanan biasa.
“Setiap kondisi kesehatan orang berbeda. Dalam kasus Hj. Mirahayati, ada rekomendasi medis yang harus dihormati,” katanya.
Terkait proses hukum, kasus Hj. Mirahayati telah memasuki tahap kedua di kejaksaan, dan saat ini menunggu pelimpahan ke Pengadilan Negeri untuk disidangkan.
“Kita akan sama-sama menyaksikan jalannya persidangan yang terbuka untuk umum. Kita harus hormati asas legalitas, bahwa semua warga negara sama di mata hukum,” tegas Ida.
Ia juga meminta publik untuk tidak langsung menghakimi, sebelum ada putusan pengadilan yang inkrah.
“Dalam hukum ada asas presumption of innocence, sehingga tidak bisa seseorang divonis bersalah sebelum ada putusan pengadilan,” tambahnya.
Mengenai tuduhan bahwa produk skincare Mirahayati mengandung zat berbahaya, Ida menegaskan, produk Mirahayati telah mengantongi izin BPOM, kecuali satu produk, yakni toner, yang masih dalam proses perizinan.
“Kami memiliki apoteker yang bertanggung jawab atas formulasi produk. Klien kami tidak pernah menyuruh meracik produk yang overclaim atau mengandung zat berbahaya,” jelasnya.
Ida juga menyebut, bahwa BPOM secara berkala melakukan inspeksi ke pabrik.
“Jika memang ada niat untuk memproduksi produk berbahaya, pasti sudah lama ditemukan oleh BPOM,” katanya.
Saat ini, produksi skincare Mirahayati terhenti akibat kasus yang sementara berproses. Namun, BPOM telah memberikan tenggat waktu tiga bulan untuk kembali berproduksi.
“Jika dalam waktu tersebut tidak ada produksi, maka izin BPOM akan dicabut. Kami sedang membenahi internal perusahaan, agar segera kembali beroperasi,” pungkasnya.












