INKAM, JAKARTA – Tingkat inklusi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) terhadap produk pasar modal, mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun ini.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) menunjukkan, hingga September 2024, jumlah Single Investor Identification (SID) di Sulsel mencapai 385.477, meningkat sebesar 29,62 persen secara tahunan (year-on-year).
Mayoritas investor di Sulsel berasal dari kalangan reksadana, dengan total 369.438 SID. Posisi kedua ditempati investor saham dengan 119.510 SID, sementara Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan 17.223 SID.
Kepala OJK Sulselbar, Darwisman, menjelaskan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada investor reksadana yang meningkat sebesar 30,58 persen, diikuti oleh saham dengan pertumbuhan 24,13 persen, dan SBN 17,31 persen.
Dari sisi kepemilikan saham berdasarkan pekerjaan, pegawai swasta mendominasi dengan 38.271 rekening.
Pelajar menjadi kelompok kedua terbanyak dengan 32.120 rekening, mencerminkan peningkatan kesadaran generasi muda terhadap investasi.
Pengusaha menempati posisi ketiga dengan 17.671 rekening, diikuti oleh kelompok lain seperti pegawai negeri (5.941 rekening), ibu rumah tangga (5.397 rekening), dan guru (1.740 rekening).
“Kalangan pelajar kini semakin melek investasi, terutama melalui program literasi dan edukasi yang terus kami galakkan bersama mitra terkait,” ungkap Darwisman.
Selain itu, berdasarkan rentang usia, investor muda mendominasi kepemilikan saham di Sulsel.
Data menunjukkan, kelompok usia 18–25 tahun mencatatkan jumlah investor tertinggi, diikuti usia 26–30 tahun yang menyumbang 25 persen, usia 31–40 tahun sebesar 24 persen, dan usia di atas 41 tahun sebesar 16 persen.
Kepala Unit Pengelolaan Wilayah 3 IDX/Bursa Efek Indonesia (BEI) Kemas M. Rumaiyar mengungkapkan, tren ini didorong oleh masifnya upaya edukasi dan literasi yang dilakukan oleh BEI bersama OJK.
“Kami sangat gencar membangun branding, terutama di perguruan tinggi, melalui program seperti Galeri Investasi. Sosialisasi ini juga sangat terbantu oleh peran media sosial,” ujarnya.
Galeri Investasi yang hadir di sejumlah kampus di Sulsel, menjadi salah satu pintu masuk bagi mahasiswa, untuk mengenal pasar modal lebih dekat.
Program ini tidak hanya memberikan edukasi teoretis, tetapi juga pembelajaran langsung melalui simulasi investasi.
Fleksibilitas investasi reksadana juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor pemula.
Dengan modal yang terjangkau dan pengelolaan oleh manajer investasi profesional, reksadana memberikan opsi investasi yang lebih aman dan efisien.
Selain itu, investasi saham juga mulai diminati oleh generasi muda di Sulsel.
Hal ini didukung oleh berbagai platform digital, yang memudahkan mereka untuk memulai investasi dengan modal kecil, namun tetap memiliki potensi imbal hasil yang kompetitif.
Darwisman menyampaikan, peningkatan jumlah investor di Sulsel tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, dalam memberikan edukasi keuangan yang inovatif dan menarik.
Program literasi keuangan juga diperluas hingga ke sekolah-sekolah menengah atas, sehingga generasi muda memiliki wawasan tentang pentingnya investasi sejak dini.
“Edukasi yang melibatkan media sosial dan platform digital, menjadi kunci utama dalam menjangkau kalangan milenial dan Gen Z,” kata Kemas.
Sosialisasi ini juga menggandeng tokoh-tokoh muda inspiratif, yang dapat menarik perhatian kelompok usia produktif.
Tak hanya itu, OJK dan BEI juga mengembangkan berbagai program literasi keuangan berbasis komunitas.
Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat, tentang pentingnya investasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Ke depan, OJK Sulselbar berkomitmen untuk memperluas inklusi keuangan di berbagai wilayah di Sulsel, termasuk daerah-daerah yang selama ini minim akses terhadap layanan pasar modal.
Teknologi digital akan dimanfaatkan secara optimal, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.
Langkah strategis ini, tidak hanya memperkuat sektor pasar modal di Sulsel, tetapi juga mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara berkelanjutan.
Dengan pertumbuhan inklusi keuangan, Sulsel diharapkan dapat terus berkontribusi pada penguatan ekonomi daerah dan nasional.















