INKAM, MAKASSAR – Film Solata yang mengusung tagline “Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih” baru saja melewati tahap penting dalam proses produksinya.
Film yang mengambil latar di empat lokasi, Tana Toraja, Toraja Utara, Palopo, dan Jakarta, menyelesaikan pengambilan gambar pada 5 Agustus 2024.
Dibintangi aktor-aktor dari Jakarta, Makassar, dan Toraja, Solata menghadirkan kolaborasi lintas daerah, yang memberikan nuansa lokal kuat dan kental akan kekayaan budaya.
Dalam film ini, aktor Rendy Kjaernett, Rachel Natasya (mantan anggota JKT48), dan Harsya Subandrio, bersanding dengan aktor lokal berbakat seperti Fhail Firmansyah, Sese Lawing, Cipta Perdana, dan Aty Kodong.
Tidak ketinggalan penampilan dari enam aktor cilik asal Toraja, yakni Keyzo Sombolinggi, Suray Parrangan, Maulana Eka Putra, Gabriel Alexander, Amel Komba, dan Ince Amira Batrisyia, yang berhasil menambah kesegaran dalam narasi.
Setelah selesai syuting, proses penyuntingan langsung dikebut di bawah arahan Waluyo Ichwandiardono, yang pernah masuk nominasi Piala Citra sebanyak 11 kali.
Waluyo, yang sebelumnya dikenal berkat karya-karyanya dalam Laskar Pelangi dan Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui, dipercaya untuk meracik film ini menjadi sajian yang memikat.
Proses pascaproduksi ini juga melibatkan sejumlah program Forum Group Discussion (FGD), untuk mendapatkan masukan dari masyarakat.
Hingga saat ini, FGD telah digelar tiga kali di berbagai lokasi, termasuk di Ruang Guru Makale, Ruang Guru Rantepao, dan Cocospace Café Makassar.
Sutradara Ichwan Persada mengawal langsung setiap sesi FGD, dengan mendengarkan saran serta kritik dari peserta yang terdiri dari kalangan pendidik, jurnalis, dan praktisi media.
Pada tahap awal penyuntingan, Solata menerima respons positif dari sekitar 50 orang pertama yang menyaksikan draft awal film ini.
Ichwan mengaku terkejut, dengan sambutan meriah yang diterima film debut panjangnya ini.
“Jujur, saya sangat lega dengan komentar dari para penonton. Banyak yang merasa sangat terhibur, dan senang mendapati pesan filmnya sampai dengan baik,” kata Ichwan.
Ia juga menyampaikan, bahwa apresiasi datang dari para tenaga pendidik, yang memuji upaya film ini dalam menggambarkan tantangan menjadi guru di daerah terpencil, dengan segala keterbatasan fasilitas.
“Film ini berhasil menyoroti kondisi yang dihadapi oleh para pendidik di pedalaman, dan itu diapresiasi oleh mereka yang memang tahu bagaimana rasanya mengajar di sana,” tambahnya.
Meski mendapatkan tawaran dari dua festival film ternama, Ichwan dan tim produksi memilih untuk tidak terburu-buru merilis film ini.
“Kami ingin memastikan film ini selesai dengan kualitas terbaik sehingga penonton bioskop nantinya benar-benar puas. Insya Allah, Solata juga akan diputar di berbagai festival film sebelum tayang di bioskop,” jelasnya.
Sementara jadwal rilis resmi di bioskop masih belum ditentukan, tim promosi sudah menyiapkan berbagai konten di media sosial untuk terus menggaungkan film ini kepada publik.
“Kami berharap Solata bisa tayang di bioskop akhir tahun ini, atau paling lambat awal tahun depan,” tutup Ichwan dengan optimisme.
Dengan cerita yang mengangkat tema keluarga, persahabatan, dan nilai-nilai budaya lokal, Solata diprediksi akan menjadi film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh hati penontonnya, terutama di Sulawesi Selatan yang menjadi latar penting dalam film ini.















