INKAM, MAKASSAR – Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, menjadi lokasi pemantauan hilal 1 Syawal 1445, oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel.
Pemantauan tersebut dihelat pada Selasa sore hingga petang, 9 April 2024.
Observatorium Unismuh terletak di Gedung Iqra lantai 18, Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin Makassar.
Ratusan orang hadir dalam pemantauan tersebut, yang terdiri dari jajaran Kanwil Kemenag Sulsel, MUI Sulsel, Pengadilan Agama Makassar, Badan Hisab Rukyat Sulsel, BMKG, ormas Islam, Perguruan Tinggi Islam, dan para jurnalis.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Muh Tonang, mengapresiasi kesediaan Unismuh Makassar, menjadi tuan rumah pelaksanaan pemantauan hilal tersebut.
“Kami berterima kasih sivitas akademika Unismuh, bisa menyetujui penggunaan menempati Observatorium Unismuh, untuk pemantauan hilal,” ungkapnya.
Kemenag, kata Tonang, bertugas memfasilitasi dua metode, dalam penentuan Hari Raya yakni metode hisab dan rukyat.
“Hari ini kita laksanakan di Observatorium Unismuh, sebelumnya pernah Kita lihat dilaksanakan di kampus Unismuh, sebelumnya di GTC dan tempat lain. Semoga Unismuh tetap bersedia untuk hari raya tahun depan,” ungkap Kakanwil Kemenag itu.
Ketua MUI: Nashrun Minallahi wa Fathun Qarib
Apresiasi juga datang dari Ketua MUI Sulsel, Prof Najamuddin, yang sempat memberikan sambutan dan membacakan doa.
“Saya sudah sering lewat depan kampus Unismuh, tapi belum pernah naik ke sini. Kenapa harus pergi jauh-jauh, kalau kita bisa melakukan pemantauan dari sini,” ujarnya.
Awalnya ia sempat heran, mengapa Unismuh juga menyiapkan peralatan pemantauan hilal, padahal, sepanjang pengetahuannya, Muhammadiyah lebih condong pada metode hisab.
“Mungkin ini tanda-tanda, ke depan kita akan bersatu, tidak ada lagi perbedaan penentuan hari Raya,” ungkap Prof Najamuddin sembari tersenyum, disambut senyum Prof Ambo Asse yang duduk di sebelahnya
Najamuddin juga mengapresiasi upaya Muhammadiyah, untuk mendorong Kalender Hijriyah Global Tunggal, sebagai upaya penyatuan kalender umat Islam
“Saya hadir dalam pertemuan yang membahas kalender global yang dilaksanakan Muhammadiyah, tapi hal itu masih berat terwujud, kalau metode penetapannya berbeda,” ungkap Ketua MUI Sulsel itu.
Tapi ia menegaskan, MUI bakal terus menjadi wadah pemersatu bagi semua ormas Islam, termasuk NU dan Muhammadiyah.
Prof Najamuddin mengakhiri sambutan, dengan salam penutup khas Muhammadiyah yang memiliki arti “Pertolongan datang dari Allah dan kemenangan itu sudah dekat”.
“Nashrun minallahi wa fathun qarib,” ujar Ketua MUI Sulsel itu.
Tidak lama, Prof Najamudidn lalu meneruskan kalimat penutupnya, dengan menyebutkan kalimat yang lazim digunakan oleh warga Nahdlatul Ulama, yang bermakna “Allah adalah zat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya”.
“Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Najamuddin.
Hal tersebut menjadi penanda ajakan Ketua MUI itu terhadap toleransi dan persatuan antar umat Islam.












