Bahayanya Hoaks yang Harus Dihindari agar Medsos Berdampak Positif

INKAM, PARIGI – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 30 Juni 2021 di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Mengenal dan Menangkal Hoaks”.

Program kali ini menghadirkan 556 peserta dan empat narasumber yang terdiri dari selebgram, Firji ET Massie; Dosen IAKN Ambon & Celebes Institute, Ferry Rangi, MA; Dosen dan Peneliti UKDW & ICRS, Dr Leonard C Epafras; dan Dosen Antropologi Universitas Tadulako, Hendra, S.Sos, M. Phil, M.A. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Rachman Pratama selaku jurnalis dan naravlog. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Firji ET Massie yang membawakan tema “Digital Skill: Informasi Digital, Identitas Digital, Jejak dalam Media Sosial”. Firji menuturkan, informasi dan identitas bisa dikelola melalui jejak digital yang ditinggalkan. Setidaknya ada empat cara melindungi jejak digital, pertama, hindari penyebaran data penting seperti alamat rumah, rekening ATM, atau nomor Hp di internet; kedua, jangan mudah percaya berita tidak masuk akal; ketiga, jangan mengunggah sesuatu yang terlalu personal; keempat, buat kata sandi yang kuat dan gunakan layanan pelindung data pada perangkat yang digunakan.

“Memang semakin banyak yang bisa dilakukan di dunia digital, tapi semakin banyak pula risiko kejahatan yang kita dapatkan,” katanya.

Berikutnya, Ferry Rangi menyampaikan materi berjudul “Digital Ethics: Sudah Tahukah Anda Dampak Penyebaran Berita Hoaks?”. Menurut dia, sekadar berita bohong tidak akan berdampak luas, kecuali ada kekuatan (power) di belakangnya. Dalam sejarahnya, hoaks erat kaitannya dengan agitasi dan propaganda. “Hoaks dapat menimbulkan perpecahan karena dilatarbelakangi oleh kepentingan tertentu, sengaja untuk dikerjakan, dan ada sistem yang mengaturnya,” kata Ferry.

READ  Agar Dompet Tetap Aman Meski Tak Lagi Berbentuk Fisik

Sebagai pemateri ketiga, Dr Leonard Chrysostomos Epafras membawakan tema tentang “Digital Culture: Menyuarakan Pendapat di Dunia Digital”. Ia mengawali paparannya dengan mengutip hasil riset Microsoft yang menyebut warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Leo pun memberikan catatan dalam berpendapat di dunia digital. Pertama, menahan diri menilai orang lain sebelum informasinya lengkap.

“Penting untuk suspend judgment sebelum pesan dilepas,” katanya. Kedua, hindari stereotip. Ketiga, batasi berbagi informasi privat diri kita dalam berinteraksi medsos. Keempat, pesan yang baik disempurnakan sumber yang baik. “No to SARA, body shaming, ad hominem, sexting,” pungkasnya.

Adapun Hendra sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema mengenai “Digital Safety: Bermedia dengan Bijak”. Hendra menyatakan, pada dasarnya masyarakat suka bercerita atau bergosip. Zaman berubah, namun gosip dan cerita tetap ada, bahkan di dunia maya. Sayangnya, kata dia, yang namanya cerita itu ada yang benar ada juga yang bohong. “Maka cermati dan saring apa yang didengar, dilihat, dan dirasa, sehingga tidak terjadi hoaks,” ungkapnya.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber. Salah satu pertanyaannya, “Saat ini masyarakat seolah-olah sudah bisa menjadi jurnalis atau wartawan, ketika ada kejadian mereka posting saat itu juga. Padahal dalam jurnalistik itu sendiri terdapat kode etik jurnalistik dimana ketika membuat informasi mengenai kejadian ada kaidah yang perlu diperhatikan. Nah, bagaimana bisa mengedukasi masyarakat yang seperti itu?” tanya Yoga Hadi Wibowo kepada Leo.

Menjawab pertanyaan tersebut, Leo menyampaikan internet khususnya medsos memberikan ruang demokrasi partisipatoris. Sisi positifnya, warga bisa langsung terlibat dalam perubahan kebijakan publik. Tapi memang biasanya mereka tidak mengikuti etika jurnalistik. “Jawabannya bagaimana, literasi. Beberapa komunitas ini sudah muncul. Mereka mendidik warga biasa, misal tukang sayur menggunakan medsos untuk berbisnis sekaligus kalau melaporkan sesuatu menggunakan kaidah,” katanya.

READ  Etika Jadi Kunci dalam Menyikapi Multikulturalisme di Ruang Digital

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

Comments

comments

Check Also

Stop! Jangan Umbar Data Pribadi di Dunia Maya

INKAM, DONGGALA – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan …